BAB. I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan karakter saat
ini menjadi fokus program Kementerian Pendidikan Nasional. Di setiap kesempatan
Menteri Pendidikan yang selalu mengemukakan, agar pendidikan karakter diberikan
sejak usia dini. Mengapa demikian? Karena saat ini banyak kasus yang melibatkan
anak negeri ke arah perpecahan bangsa, mulai dari korupsi, tidak menghargai
nyawa orang lain, tidak menghargai orang tua, tidak disiplin, makelar kasus,
video porno serta kasus lainnya yang sudah keluar dari
karakter Bangsa Indonesia, yang dikenal ramah tamah, gotong royong, menghargai
orang lain. Tentu ada yang belum sesuai dengan proses Pendidikan selama ini, di
sisi lain untuk membangun karakter bangsa yang beradab jalan yang efektif
adalah melalui proses pendidikan
Pendidikan karakter
tertuang dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pasal 3 menyebutkan Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sehingga pendidikan
karakter sudah menjadi kewajiban yang harus diberikan pada peserta didik dalam
segala satuan pendidikan. Maka dari itu, Gearakan Pramuka sebagai salah
satu wadah yang menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar
sangat relevan dengan pendidikan karakter bangsa terbukti dengan kesamaan
nilai-nilai pendidikan karakter dengan nilai-nilai kepramukaan, sehingga sangat
tepat bila melalui Gerakan Pramuka pendidikan karakter dapat dibentuk.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar
belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan pengertian pendidikan karakter?
2. Apakah pentingnya pendidikan karakter bagi siswa sekolah dasar?
3. Apakah pengertian kegiatan pramuka?
4. Apakah kegiatan pramuka di sekolah dasar itu dapat mendidik karakter
peserta didik ?
C. Tujuan
Tujuan yang diharapkan dari
penulisan makalah ini adalah untuk :
1. Mengetahui pengertian pendidikan karakter.
2. Mengetahui pentingnya pendidikan karakter bagi siswa sekolah dasar.
3. Mengetahui pengertian pramuka.
4. Mengetahui peranan kegiatan pramuka di sekolah dasar dalam membentuk
karakter peserta didik.
BAB. II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter
terdiri dari dua kalimat, yaitu pendidikan dan karakter. Pendidikan adalah
proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi generasi muda untuk
peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang.
Sedangkan karakter yaitu, watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang
terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan
digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan
bertindak. Maka Pendidikan karakter yaitu proses pewarisan budaya pada generasi
muda untuk membentuk kepribadian sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir,
bersikap dan bertindak.
Pendidikan karakter tertuang dalam
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3
menyebutkan Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Sehingga pendidikan karakter sudah menjadi
kewajiban yang harus diberikan pada peserta didik dalam segala satuan
pendidikan.
Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam proses pendidikan karakter siswa sekolah dasar, antara
lain :
1.
Pelaksanaan Pendidikan Budaya dan karakter Bangsa
Karakter bangsa Indonesia
adalah karakter yang dimiliki warga negara bangsa Indonesia berdasarkan tindakan-tindakan
yang dinilai sebagai suatu kebajikan, berdasarkan nilai yang berlaku di
masyarakat dan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Pendidikan Budaya dan
Karakter Bangsa diarahkan pada upaya mengembangkan nilai-nilai yang mendasari
suatu kebajikan sehingga menjadi suatu kepribadian diri yang baik. Pengembangan
materi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa seperti : sikap empati, rasa
toleransi, dijadikan sebagai dasar bagi tindakan dalam perilaku kehidupan
peserta didik sehari-hari dan merupakan persyaratan awal yang mutlak untuk
keberhasilan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.
Proses pembelajaran Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
dilaksanakan melalui proses belajar aktif. Sesuai dengan prinsip pengembangan
nilai harus dilakukan secara aktif oleh peserta didik (dirinya sebagai subyek
yang akan menerima kemudian menjadikan nilai sebagai miliknya dan menjadikan
nilai-nilai yang sudah dipelajarinya sebagai dasar dalam setiap tindakan).
Pepatah mengatakan,”Satu teladan lebih bijaksana dibanding seribu nasehat yang
hendaknya kita tulis di depan meja kerja masing-masing sebagai ingatan dan
peringatan kita untuk bertindak”, sehingga kata-kata bijak itu tidak
hanya berfungsi sebagai pajangan indah di tempat-tempat umum yang strategis.
Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam
suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan
sosial, budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Pendidikan juga memiliki fungsi
untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu menjadi
nilai-nilai budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang
akan datang, serta mengembangkan prestasi baru yang menjadi karakter baru
bangsa. Oleh karena itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan inti
dari suatu proses pendidikan.
2.
Implementasi Pendidikan
Budaya dan Karakter Bangsa
Pelaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan
melalui pengintegrasian ke dalam kegiatan sehari-hari di sekolah yaitu melalui
hal-hal berikut, contohnya upacara pada hari Senin, beribadah / sholat bersama,
berdoa waktu mulai dan selesai pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru,
tenaga kependidikan, atau teman. Sedangkan contoh kegiatan yang harus
ditinggalkan seperti : membuang sampah tidak pada tempatnya, berteriak-teriak
sehingga mengganggu pihak lain, berkelahi, memalak, berlaku tidak sopan,
mencuri, berpakaian tidak senonoh, dan lain-lain. Sedangkan sikap peserta didik
yang baik perlu dipuji, misalnya: memperoleh nilai tinggi, menolong orang lain,
memperoleh prestasi dalam olah raga atau kesenian, berani menentang atau
mengoreksi perilaku teman yang tidak terpuji, berpakaian rapi, datang tepat
pada waktunya, bekerja keras, bertutur kata sopan, penuh kasih sayang,
perhatian terhadap peserta didik, jujur, menjaga kebersihan dan lain-lain.
3.
Tujuan Pendidikan karakter
Memasuki abad 21 ini,
kita berada pada jaman yang memiliki pendidikan dan teknologi yang relatif
maju. Sudah sewajarnya bila negara Indonesia dan negara lain pada umumnya ingin
menjadi negara yang maju. Namun, semua hal yang tidak baik selalu diiringi dengan
hal yang baik pula. Era pendidikan dan teknologi yang semakin maju sekarang ini
menimbulkan dampak negatif pula khususnya bagi masyarakat. Masyarakat tengah
mengalami degradasi moral, krisis karakter, dan memudarnya rasa cinta tanah
air.
Berbagai peristiwa atau
kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita saksikan melalui TV maupun
media cetak menunjukan betapa masyarakat kita dilanda degradasi jati diri.
Seiring perjalanan waktu, moral bangsa terasa semakin amburadul dan
memperihatinkan, huru-hara terjadi dimana-mana, tata krama pun hilang, nyawa
seperti tak ada harganya, korupsi menjadi-jadi, bahkan telah dilakukan
terang-terangan dan berjamaah,(Taufik Ismail). Berbagai bentuk kerusuhan yang
diikuti penjarahan, pembunuhan dan pemerkosaan terjadi di berbagai daerah.
Selain dari itu, keutuhan dan ketahanan bangsa pun terancam dengan terjadinya
beberapa konflik di berbagai daerah seperti di Aceh, Maluku dan Papua.
Masyarakat Indonesia
seperti kehilangan prinsip dan nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Konsep Bhineka Tunggal Ika sudah mulai luntur dari jiwa-jiwa
generasi sekarang. Jika Pendiri bangsa ini (the founding fathers) masih sempat
menyaksikan kondisi bangsa saat ini, tentu mereka akan sangat sedih dan
menyesal. Bangsa Indonesia yang merdeka dengan mengorbankan segenap harta, jiwa
dan raga harus menjadi bangsa yang tidak memiliki karakter (izzah), dan
kehilangan prinsip kebangsaan. Untuk menjawab semua fenomena tersebut, apakah
yang harus kita lakukan ? Tentunya sebagai generasi penerus yang diharapkan
betul oleh bangsa, tidak sepantasnya hanya menjadi orang ketiga yang hanya bisa
menyaksikan kengerian yang terjadi di negeri ini. Tidak bisa hanya berdiam diri
saja, namun harus melakukan sesuatu tentunya.
Upaya-upaya yang dilakukan
guna mengatasi degradasi moral dan krisis karakter khususnya yang dialami oleh
pesrta didik sebagai calon pemimpin bangsa, salah satunya melalui pendidikan
karakter. Karakter menjadi poin utama dalam mengatasi krisis yang terjadi pada
bangsa ini.
Guna memenuhi harapan
tersebut, maka dirumuskanlah program pendidikan karakter yang terpadu dengan
semangat kebangsaan. Selain itu, semangat religiositas juga sangat mendesak
untuk dikembangkan demi terciptanya suasana damai dan saling menyayangi antar sesama
makhluk Tuhan di muka bumi. Pendidikan karakter merupakan jawaban yang utuh
dari berbagai kegelisahan dan keterpurukan yang masih mencengkeram bangsa Indonesia.
Karakter bangsa merupakan
pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ibarat kemudi dalam
wahana berbangsa dan bernegara. Bagi bangsa Indonesia, jelas bahwa kemudinya
adalah Pancasila yang merupakan falsafah bangsa.
Tujuan dari pendidikan karakter
adalah untuk mengembangkan karakter bangsa agar mampu mewujudkan nilai-nilai
luhur Pancasila. Pembangunan karakter ini berfungsi untuk mengembangkan potensi
dasar agar berbaik hati, berpikiran baik, dan berperilaku baik (memperbaiki
perilaku yang kurang baik dan menguatkan perilaku yang sudah baik) serta
menyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Ruang
lingkup pembangunan karakter ini mencakup keluarga, satuan pendidikan,
masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
Pendidikan karakter diwujudkan dalam berbagai strategi seperti
pendidikan karakter yang disisipkan dalam pendidikan formal. Hal tersebut tentu
dirasa masih sangat kurang untuk mewujudkan karakter bangsa seperti yang
diharapkan.
B.
Pentingnya
Pendidikan Karakter bagi Siswa Sekolah Dasar
Dalam tujuan pendidikan
nasional, pendidikan karakter merupakan gambaran tentang kualitas manusia
Indonesia yang harus dikembangkan oleh satuan pendidikan, serta menjadi dasar
dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa. Pendidikan karakter lebih mudah
diberikan pada usia dini, hal ini akan mudah diterima dan tersimpan dalam
memori anak, dan akan membawa pengaruh pada perkembangan watak dan pribadi
anak hingga dewasa. Menurut Daniel Golemen dalam bukunya Kecerdasan Ganda
menyebutkan bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan dibutuhkan
80%, sedangkan kecerdasan intektual hanya sebesar 20%. Oleh sebab itu, masa sekolah
dasar merupakan masa dimana perkembangan kecerdasannya sangat tinggi. Siswa
sekolah dasar mulai mengenal segala pola perilaku lingkungan sekitar dengan
sangat aktif seperti : menirukan perilaku orang dewasa, meniru gaya artis
idolanya, dan meniru segala sesuatu yang dilihatnya. Dengan berkembangnya iptek
secara pesat dan dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat termasuk siswa
sekolah dasar, maka hal itu dapat memberi efek yang positif dan negatif bagi
perkembangan karakternya. Dan di sini tugas pendidik adalah mengarahkan segala
perilaku peserta didik guna membentuk karakter yang positif. Maka dari itu
pendidikan karakter sangat penting diberikan kepada siswa sekolah dasar agar
dalam perkembangan selanjutnya tidak hanya intelektualnya saja yang berkembang,
tapi juga memiliki karakter yang baik sehingga siswa sekolah dasar tersebut
dapat beradaptasi dalam kehidupan masyarakat.
Dalam kegiatan belajar
mengajar, guru sekolah dasar tidak hanya
mentransfer materi pembelajaran kepada siswa, tetapi juga berperan aktif dalam
medidik karakter atau kepribadiannya. Banyak guru sekolah dasar yang menguasai
materi pembelajaran dengan baik tetapi dalam kegiatan belajar mengajar kurang
memperhatikan perkembangan perilaku masing-masing siswanya. Akibatnya guru
tersebut kesulitan mengenali karakter masing masing siswanya yang pada masa-masa
itu sedang mengalami perkembangan kecerdasan, baik emosional maupun kecerdasan
intelektual dengan pesat.
Untuk mengatasi hal
tersebut, dibutuhkan pendidikan karakter bagi siswa sekolah dasar. Banyak hal
yang dapat dilakukan guru sekolah dasar untuk mendidik dan mengarahkan
perkembangan karakter siswanya. Bisa dengan kegiatan ekstrakurikuler yang
bersifat nonformal. Tetapi kegiatan tersebut dapat menanamkan nilai-nilai luhur
yang dapat berpengaruh dalam perkembangan karakter siswanya. Dalam hal ini pramuka
dapat menjadi salah satu alternative kegiatan ekstrakurikuler yang paling tepat
dalam pendidikan karakter siswa sekolah dasar, karena terdapat nilai-nilai
positif yang terkandung dalam setiap kegiatannya.
C.
Pengertian
Gerakan Pramuka
1. Definisi Gerakan Pramuka
Unsur di dalam pendidikan nonformal adalah pendidikan kepemudaan. Unsur
yang ada di dalam pendidikan kepemudaan adalah Gerakan Pramuka. Dalam UU
No. 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, disebutkan Gerakan Pramuka
adalah organisasi yang dibentuk oleh pramuka untuk menyelenggarakan
pendidikan kepramukaan. Gerakan pramuka merupakan wadah pendidikan generasi
muda dari usia 7 – 25 tahun, yang
mempersiapkan anggotanya untuk mempunyai karakter bangsa sesuai dengan dasa
darma dan tri satya.
2.
Tujuan
Gerakan Pramuka
Tujuan
dari Gerakan Pramuka untuk membentuk setiap anggota pramuka agar memiliki
kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat
hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki
kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara
Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan
lingkungan hidup. Tujuan dari Gerakan Pramuka sejalan dengan fokus pendidikan
karakter yang menjadi program utama Kementerian Pendidikan Nasional.
Dalam menanamkan dan
menumbuhkan karakter bangsa, di kepramukaan mempergunakan 10 pilar yang
menjadi kode kehormatan. Kode kehormatan mempunyai makna suatu norma
(aturan) yang menjadi ukuran kesadaran mengenai akhlak yang tersimpan dalam
hati yang menyadari harga dirinya, serta menjadi standar tingkah laku pramuka
di masyarakat. 10 pilar tersebut bernama dasa dharma, yaitu :
- Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
- Patriot yang sopan dan kesatria.
- Patuh dan suka bermusyawarah.
- Rela menolong dan tabah.
- Rajin,terampil dan gembira.
- Hemat,cermat dan bersahaja.
- Disiplin, berani dan setia.
- Bertanggung jawab dan dapat dipercaya dan
- Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
Dalam mengimplementasikan
10 pilar tersebut, antara anggota penggalang, penegak dan pandega hingga
anggota dewasa disesuaikan dengan perkembangan rohani dan jasmani. Sedangkan
untuk anggota siaga pilar yang digunakan untuk menanamkan pendidikan
karakter melalui Dwi darma, yang berbunyi sebagai berikut “ Siaga itu
menurut ayah dan bundanya, serta siaga itu berani dan tidak putus asa”.
Mengingat usia siaga masih senang dengan bermain, maka dalam menanamkan
norma pramuka melalui media permainan dan visualisasi, serta contoh dari bunda
dan ayahandanya.
Setiap item dalam sepuluh
pilar tersebut, dijabarkan dalam satuan kecakapan khusus (SKK) yang
menjadi alat untuk mengetahui perkembangan kemampuan dan keterampilan
dalam menerapkan norma-norma yang ada. Bila anggota pramuka usia 11 hingga 25
tahun mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari pilar norma yang ada,
tentunya akan menjadi kebanggaan bagi peserta didik itu sendiri. Sedangkan
anggota dewasa menjadi pembimbing dan memantau dalam
menghayati dan melaksanakan di kehidupan sehari-hari. Tidak setiap anggota
dewasa diperbolehkan menjadi pembimbing langsung anggota pramuka usia 7
s.d 25 tahun, karena pembimbing harus menjadi contoh bagi adik didiknya. Untuk
itu anggota pramuka dewasa yang diijinkan menjadi pembina/pembimbing
sudah menyelesaikan minimal pelatihan kursus pembina pramuka mahir dasar
(KMD) atau jenjang KML. Dengan harapan adanya persepsi yang sama di seluruh
Indonesia tentang tata cara penanaman dan penumbuhan karakter bangsa melalui
kepramukaan. Sehingga hasilnya bisa dipertanggung jawabkan.
Pola pembinaan antara
anggota usia 7 s.d 10 dengan anggota pramuka usia 21 s.d.25 tahun disesuaikan
atau tidak sama. Semakin tinggi usianya semakin kecil keikut serta anggota
dewasa untuk mendampingi. Semakin kecil usianya keterlibatan pembina semakin
besar bahkan ada yang 90% pembina harus mendampingi, seperti pada anggota
pramuka siaga. Untuk itu khusus anggota siaga, panggilan pembina bukan kakak
tapi bunda dan yanda. Hal ini sesuai dengan sistem among yang digunakan dalam
salah satu prinsip metode pendekatan di kepramukaan.
Sistem among adalah proses
pendidikan kepramukaan yang bertujuan untuk membentuk peserta didik agar
berjiwa merdeka, disiplin dan mandiri dalam hubungan timbal balik antar manusia.
Sistem among selalu terimplementasikan dalam kegiatan pramuka mulai tingkatan
anggota siaga hingga dewasa, dengan cara atau pola yang dipergunakan
disesuaikan dengan usia peserta didik, sehingga memudahkan dalam menanamkan
karakter bangsa dan dapat tersimpan lama dalam memory pikiran. Terdapat 3
prinsip dalam sistem among, yaitu di depan menjadi teladan, ditengah
membangun kemauan dan di belakang mendorong dan memberikan motivasi
kemandirian.
Makna diatas, untuk
anggota siaga ketergantungan ke pembina masih besar sebanyak 90%, sehingga
pembina menjadi sentra atau contoh bagi anggota siaga. Sedangkan anggota
penggalang tingkat ketergantungan ke pembina sebesar 60%. Pembina masih
menjadi sentra dalam kegiatan pramuka, namun semakin tinggi tingkat penggalang
semakin besar tingkat kemandiriannya. Di dalam penggalang ada tiga tingkatan,
yaitu Ramu, Rakit, dan Terap.
Ketergantungan pembina
semakin kecil pada anggota penegak dan pandega hanya 10 %, karena anggota
pramuka penegak dan pandega sudah cukup dewasa utamanya pada pandega, sehingga
bisa melaksanakan kegiatan pramuka secara mandiri, pembina hanya berfungsi
sebagai motivator dan konsultan program.
Dengan adanya sistem
among tersebut, karakter anggota pramuka sudah terpantau sejak usia 7
tahun dan terus dipantau sampai berhenti menjadi anggota pramuka.
Sedangkan anggota dewasa, untuk memantapkan penanaman karakter melalui
jenjang kursus, mulai kursus pembina pramuka mahir dasar dan lanjutan, hingga
jenjang kursus pelatih pembina pramuka tingkat dasar hingga tingkat lanjutan.
3. Kegiatan Pramuka Penggalang di Sekolah Dasar
a.
Pengertian
Pramuka Penggalang
Penggalang adalah sebutan bagi Anggota Pramuka sekolah dasar yang berusia antara 11-15 tahun. Disebut Pramuka Penggalang
karena sesuai dengan kiasan (kiasan dasar) masa perjuangan bangsa Indonesia, yaitu ketika rakyat Indonesia, khususnya para pemuda dan pemudi Indonesia menggalang
kesatuan untuk medeklarasikan janji atau sumpah yang dikenal dengan Sumpah
Pemuda, pada tanggal 28 Oktober
tahun 1928 sebagai tonggak awal bersatunya kaum muda dalam memperjuangkan
kemerdekaan Negara Indonesia.
Rapat
pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB),
Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI
Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan
dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin
tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor
yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat,
pendidikan, dan kemauan.
Rapat
kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah
pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro,
berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada
keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik
secara demokratis.
Pada
rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106,
Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan
kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa
dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik
anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Sebelum
kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage
Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran
Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh
peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh
para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.
Para
peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda
yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong
Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda
Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa
sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie
namun sampai saat ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus
mereka. Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong
Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di
Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda
Keturunan Arab.
Johanna
Masdani Tumbuan termasuk di antara 71 pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda
Kedua, Oktober 1928 dan turut serta mengikrarkan Sumpah Pemuda yang berlangsung
di sebuah gedung yang terletak di Jalan Kramat Raya no. 106 Jakarta Pusat.
b.
Kode
kehormatan
Dalam menanamkan dan
menumbuhkan karakter bangsa, di kepramukaan khususnya penggalang, mempergunakan
10 pilar yang menjadi kode kehormatan. Kode kehormatan mempunyai makna
suatu norma (aturan) yang menjadi ukuran kesadaran mengenai akhlak yang
tersimpan dalam hati yang menyadari harga dirinya, serta menjadi standar
tingkah laku pramuka di masyarakat. 10 pilar tersebut bernama dasa dharma,
yaitu :
- Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
- Patriot yang sopan dan kesatria.
- Patuh dan suka bermusyawarah.
- Rela menolong dan tabah.
- Rajin,terampil dan gembira.
- Hemat,cermat dan bersahaja.
- Disiplin, berani dan setia.
- Bertanggung jawab dan dapat dipercaya dan
- Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
Dalam mengimplemasikan 10
pilar tersebut, anggota Pramuka Penggalang, disesuaikan dengan perkembangan
rohani dan jasmaninya. 10 pilar Kode
Kehormatan yang disebutkan di atas adalah standar moral bagi seorang Pramuka Penggalang
dalam bertingkah laku di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Jadi kalau ada
seorang anggota Pramuka Penggalang yang tingkah lakunya tidak sesuai dengan
standar moral ini, dia belum bisa disebut Pramuka Penggalang seutuhnya.
c.
Satuan
Satuan terkecil dalam Pramuka Penggalang disebut Regu. Setiap beberapa Regu dihimpun dalam sebuah
satuan besar yang bernama Pasukan. Regu putra diberi nama
dengan nama binatang, sedangkan Regu putri diberi nama dengan nama bunga, semisal,
Regu Cobra, Regu Mawar dll. Satu Regu beranggotakan antara 6 -
8 orang Pramuka Penggalang, dan dipimpin oleh seorang Pemimpin Regu (Pinru)
yang dipilih oleh anggota regu itu sendiri. Masing-masing Pemimpin Regu akan
memilih satu orang dari mereka yang akan menjadi Pemimpin Regu Utama yang
disebut Pratama. Satu Pasukan terdiri dari beberapa Regu yang akan dipimpin
oleh Pratama tersebut.
d.
Syarat
Kecakapan
1)
Syarat Kecakapan Umum
Syarat
Kecakapan Umum (SKU) Pramuka Penggalang adalah syarat wajib yang harus dipenuhi
oleh seorang Pramuka Penggalang untuk mendapatkan Tanda Kecakapan Umum (TKU).
TKU dalam Pramuka Penggalang ada tiga tingkat, yaitu:
Ø Penggalang Rakit
Ø Penggalang Terap
2)
Syarat Kecakapan Khusus
Syarat
Kecakapan Khusus (SKK) adalah syarat wajib yang harus dipenuhi oleh seorang
Pramuka Penggalang untuk mendapatkan Tanda Kecakapan Khusus (TKK). TKK dalam
Pramuka Penggalang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu madya, purwa, utama.
3)
Lain-lain
- Pembina Pramuka Penggalang putra atau putri dipanggil Kakak.
- Pembantu Pembina Pramuka Penggalang putra atau putrid dipanggil Kakak.
- Bentuk barisan dalam Upacara Penggalang adalah angkare, ini mengandung filosofi bahwa cara pandang Pramuka Penggalang sudah mulai terbuka tidak terfokus pada satu titik seperti Siaga.
- Berbagai Kegiatan untuk Penggalang, diantaranya Lomba Tingkat, Dian Pinru, Jambore, dll.
D.
Pendidikan
Karakter melalui Kegiatan Pramuka di Sekolah Dasar
Semua orang sudah tahu
bahwa dalam perkembangan zaman saat ini, pendidikan karakter sangat dibutuhkan
dalam proses pembelajaran. Terutama pembelajaran anak sekolah dasar yang pada
dasarnya sedang mengalami perkembangan kecerdasan secara pesat baik emosional
maupun intelektualnya. Oleh karena itu, untuk menanggulangi adanya pengaruh
yang negatif dalam perkembangan kecerdasannya dibutuhkan suatu pendidikan
karakter yang tepat.
Pramuka sebagai suatu
kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar dapat menjadi sarana seorang
guru untuk menanamkan nilai-nilai luhur
yang berpengaruh dalam pendidikan karakter siswanya.Karena kegiatan belajar
mengajar saat ini lebih mengedepankan peningkatan kecerdasan siswa dalam menguasai materi
pembelajaran dan kurang mengedepankan dalam pendidikan karakter siswanya. Melalui
kegiatan pramuka tersebut diharapkan siswa sekolah dasar dapat terdidik
karakternya menuju ke arah yang lebih positif dan dapat menerapkan nilai nilai
luhur kepramukaan dalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu kegiatan
pramuka di sekolah dasar harus dilestari sebagai suatu sarana dalam mendidik
karakter siswa.
Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh memastikan bidang
kepramukaan akan menjadi satu-satunya ekstrakurikuler wajib, sejalan dengan
diberlakukannya kurikulum pendidikan 2013. Hal ini dilakukan mengingat begitu
pentingnya pendidikan karakter bagi peserta didik dalam kehidupannya, terutama
siswa sekolah dasar yang dalam perkembangannya masih sangat membutuhkan bimbingan dan pengarahan dalam tingkah laku sehari-hari.
Gerakan
Pramuka selaku penyelenggara pendidikan kepramukaan mempunyai peran besar dalam
penerapan pendidikan karakter generasi muda. Pendidikan karakter dari Pramuka
diimplementasikan melalui kegiatan-kegiatan di alam terbuka. Sehingga kegiatan
Pramuka menjadi menarik dan menyenangkan. Tetapi tetap berpegang teguh pada prinsisp
dan metode kepramukaan. Kegiatan-kegiatan menarik dalam pramuka yang berada di
alam terbuka misalnya yaitu :
wide game, berkemah, api unggun dll.
Semua
kegiatan kepramukaan sangat memberi manfaat bagi pendidikan karakter peserta
didik. Peserta didik dapat bekerja sama satu sama lain dalam memecahkan
persoalan, mempunyai jiwa tolong menolong, menambah keberanian dan percaya
diri, dan pramuka juga dapat melatih peserta didik untuk menjadi pribadi yang
lebih berdisiplin. Oleh karena itu kegiatan pramuka di sekolah dasar sangat
berpengaruh dalam pendidikan karakter siswa sekolah dasar.
BAB.III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Saat
ini bangsa Indonesia telah mengalami degradasi moral.Hal ini disebabkan oleh
kurangnya pendidikan yang mengarah pada pendidikan karakter.Akibatnya sering
terjadi konflik antar warga,korupsi merajalela,pelecehan seksual,tawuran antar
pelajat,dan berbagai penyimpangan yang mengakibatkan kehidupan masyarakat
menjadi kurang kondusif,
Pendidikan
karakter memang sangat penting bagi perkembangan kepribadian peserta
didik,terutama siswa sekolah dasar yang pada dasarnya sedang mengalami
perkembangan kecerdasan baik emosional maupun intelektual dengan sangat
pesat.Pramuka sebagai suatu kegiatan ekstrakurikuler siswa dapat dijadikan
sarana untuk mendidik karakter peserta didik karena dalam setiap kegiatannya
mengandung banyak manfaat yang berguna bagi perkembangan emosi maupun
intelektual peserta didik.Sehingga dalam perkembangan selanjutnya,bangsa
Indonesia memiliki kader-kader atau generasi penerus yang berkarakter dan dapat
membangun negara ini menjadi lebih baik lagi.
B.Saran
Sebaiknya
pendidikan di negeri ini ditekankan pada pendidikan karakter.Mengingat banyak
persoalan yang terjadi di negeri ini disebabkan oleh moral dari bangsa kita
yang semakin menurun dari hari ke hari,kita dapat memulai hal tersebut dengan
kegiatan pramuka di sekolah dasar.Memang hal tersebut terlihat sepele,namun
akan terasa manfaatnya apabila peserta didik telah terjun dalam kehidupan
masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar