Satu Pramuka untuk satu Indonesia

Satu Pramuka untuk satu Indonesia
Kwarcab Kota Cimahi

Jumat, 21 Februari 2014

Pentingnya Pendidikan Akhlak / Karakter bagi Peserta DIdik



BAB. I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Pendidikan karakter saat ini menjadi fokus program Kementerian Pendidikan Nasional. Di setiap kesempatan Menteri Pendidikan yang selalu mengemukakan, agar pendidikan karakter diberikan sejak usia dini. Mengapa demikian? Karena saat ini banyak kasus yang melibatkan anak negeri ke arah perpecahan bangsa, mulai dari korupsi, tidak menghargai nyawa orang lain, tidak menghargai orang tua, tidak disiplin, makelar kasus, video porno  serta  kasus  lainnya yang sudah keluar dari karakter Bangsa Indonesia, yang dikenal ramah tamah, gotong royong, menghargai orang lain. Tentu ada yang belum sesuai dengan proses Pendidikan selama ini, di sisi lain untuk membangun karakter bangsa yang beradab jalan yang efektif adalah melalui proses pendidikan
Pendidikan karakter tertuang dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyebutkan Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sehingga pendidikan karakter sudah menjadi kewajiban yang harus diberikan pada peserta didik dalam segala satuan pendidikan. Maka dari itu, Gearakan Pramuka sebagai  salah satu wadah yang menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar sangat relevan dengan pendidikan karakter bangsa terbukti dengan kesamaan nilai-nilai pendidikan karakter dengan nilai-nilai kepramukaan, sehingga sangat tepat bila melalui Gerakan Pramuka pendidikan karakter dapat dibentuk. 

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.    Apakah yang dimaksud dengan pengertian pendidikan karakter?
2.    Apakah pentingnya pendidikan karakter bagi siswa sekolah dasar?
3.    Apakah pengertian kegiatan pramuka?
4.    Apakah kegiatan pramuka di sekolah dasar itu dapat mendidik karakter peserta didik ?

C.    Tujuan
Tujuan yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah untuk :
1.    Mengetahui pengertian pendidikan karakter.
2.    Mengetahui pentingnya pendidikan karakter bagi siswa sekolah dasar.
3.    Mengetahui pengertian pramuka.
4.    Mengetahui peranan kegiatan pramuka di sekolah dasar dalam membentuk karakter peserta didik.






BAB. II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter terdiri dari dua kalimat, yaitu pendidikan dan karakter. Pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi generasi muda untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Sedangkan karakter yaitu, watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak. Maka Pendidikan karakter yaitu proses pewarisan budaya pada generasi muda untuk membentuk kepribadian sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak.
 Pendidikan karakter tertuang dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyebutkan Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sehingga pendidikan karakter sudah menjadi kewajiban yang harus diberikan pada peserta didik dalam segala satuan pendidikan.


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pendidikan karakter siswa sekolah dasar, antara lain :
1.        Pelaksanaan Pendidikan Budaya dan karakter Bangsa
Karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang dimiliki warga negara bangsa Indonesia berdasarkan tindakan-tindakan yang dinilai sebagai suatu kebajikan, berdasarkan nilai yang berlaku di masyarakat dan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa diarahkan pada upaya mengembangkan nilai-nilai yang mendasari suatu kebajikan sehingga menjadi suatu kepribadian diri yang baik. Pengembangan materi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa seperti : sikap empati, rasa toleransi, dijadikan sebagai dasar bagi tindakan dalam perilaku kehidupan peserta didik sehari-hari dan merupakan persyaratan awal yang mutlak untuk keberhasilan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.
         Proses pembelajaran Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dilaksanakan melalui proses belajar aktif. Sesuai dengan prinsip pengembangan nilai harus dilakukan secara aktif oleh peserta didik (dirinya sebagai subyek yang akan menerima kemudian menjadikan nilai sebagai miliknya dan menjadikan nilai-nilai yang sudah dipelajarinya sebagai dasar dalam setiap tindakan). Pepatah mengatakan,”Satu teladan lebih bijaksana dibanding seribu nasehat yang hendaknya kita tulis di depan meja kerja masing-masing sebagai ingatan dan peringatan kita untuk bertindak”, sehingga  kata-kata bijak itu tidak hanya berfungsi sebagai pajangan indah di tempat-tempat umum yang strategis. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial, budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Pendidikan juga memiliki fungsi untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu menjadi nilai-nilai budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, serta mengembangkan prestasi baru yang menjadi karakter baru bangsa. Oleh karena itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan inti dari suatu proses pendidikan.
2.        Implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
         Pelaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui pengintegrasian ke dalam kegiatan sehari-hari di sekolah yaitu melalui hal-hal berikut, contohnya upacara pada hari Senin, beribadah / sholat bersama, berdoa waktu mulai dan selesai pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru, tenaga kependidikan, atau teman. Sedangkan contoh kegiatan yang harus ditinggalkan seperti : membuang sampah tidak pada tempatnya, berteriak-teriak sehingga mengganggu pihak lain, berkelahi, memalak, berlaku tidak sopan, mencuri, berpakaian tidak senonoh, dan lain-lain. Sedangkan sikap peserta didik yang baik perlu dipuji, misalnya: memperoleh nilai tinggi, menolong orang lain, memperoleh prestasi dalam olah raga atau kesenian, berani menentang atau mengoreksi perilaku teman yang tidak terpuji, berpakaian rapi, datang tepat pada waktunya, bekerja keras, bertutur kata sopan, penuh kasih sayang, perhatian terhadap peserta didik, jujur, menjaga kebersihan dan lain-lain.
3.        Tujuan Pendidikan karakter
Memasuki abad 21 ini, kita berada pada jaman yang memiliki pendidikan dan teknologi yang relatif maju. Sudah sewajarnya bila negara Indonesia dan negara lain pada umumnya ingin menjadi negara yang maju. Namun, semua hal yang tidak baik selalu diiringi dengan hal yang baik pula. Era pendidikan dan teknologi yang semakin maju sekarang ini menimbulkan dampak negatif pula khususnya bagi masyarakat. Masyarakat tengah mengalami degradasi moral, krisis karakter, dan memudarnya rasa cinta tanah air.
Berbagai peristiwa atau kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita saksikan melalui TV maupun media cetak menunjukan betapa masyarakat kita dilanda degradasi jati diri. Seiring perjalanan waktu, moral bangsa terasa semakin amburadul dan memperihatinkan, huru-hara terjadi dimana-mana, tata krama pun hilang, nyawa seperti tak ada harganya, korupsi menjadi-jadi, bahkan telah dilakukan terang-terangan dan berjamaah,(Taufik Ismail). Berbagai bentuk kerusuhan yang diikuti penjarahan, pembunuhan dan pemerkosaan terjadi di berbagai daerah. Selain dari itu, keutuhan dan ketahanan bangsa pun terancam dengan terjadinya beberapa konflik di berbagai daerah seperti di Aceh, Maluku dan Papua.
Masyarakat Indonesia seperti kehilangan prinsip dan nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Konsep Bhineka Tunggal Ika sudah mulai luntur dari jiwa-jiwa generasi sekarang. Jika Pendiri bangsa ini (the founding fathers) masih sempat menyaksikan kondisi bangsa saat ini, tentu mereka akan sangat sedih dan menyesal. Bangsa Indonesia yang merdeka dengan mengorbankan segenap harta, jiwa dan raga harus menjadi bangsa yang tidak memiliki karakter (izzah), dan kehilangan prinsip kebangsaan. Untuk menjawab semua fenomena tersebut, apakah yang harus kita lakukan ? Tentunya sebagai generasi penerus yang diharapkan betul oleh bangsa, tidak sepantasnya hanya menjadi orang ketiga yang hanya bisa menyaksikan kengerian yang terjadi di negeri ini. Tidak bisa hanya berdiam diri saja, namun harus melakukan sesuatu tentunya.
Upaya-upaya yang dilakukan guna mengatasi degradasi moral dan krisis karakter khususnya yang dialami oleh pesrta didik sebagai calon pemimpin bangsa, salah satunya melalui pendidikan karakter. Karakter menjadi poin utama dalam mengatasi krisis yang terjadi pada bangsa ini.
Guna memenuhi harapan tersebut, maka dirumuskanlah program pendidikan karakter yang terpadu dengan semangat kebangsaan. Selain itu, semangat religiositas juga sangat mendesak untuk dikembangkan demi terciptanya suasana damai dan saling menyayangi antar sesama makhluk Tuhan di muka bumi. Pendidikan karakter merupakan jawaban yang utuh dari berbagai kegelisahan dan keterpurukan yang masih mencengkeram bangsa Indonesia.
Karakter bangsa merupakan pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ibarat kemudi dalam wahana berbangsa dan bernegara. Bagi bangsa Indonesia, jelas bahwa kemudinya adalah Pancasila yang merupakan falsafah bangsa.
Tujuan dari pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan karakter bangsa agar mampu mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila. Pembangunan karakter ini berfungsi untuk mengembangkan potensi dasar agar berbaik hati, berpikiran baik, dan berperilaku baik (memperbaiki perilaku yang kurang baik dan menguatkan perilaku yang sudah baik) serta menyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Ruang lingkup pembangunan karakter ini mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
Pendidikan karakter diwujudkan dalam berbagai strategi seperti pendidikan karakter yang disisipkan dalam pendidikan formal. Hal tersebut tentu dirasa masih sangat kurang untuk mewujudkan karakter bangsa seperti yang diharapkan.


B.   Pentingnya Pendidikan Karakter bagi Siswa Sekolah Dasar
Dalam tujuan pendidikan nasional, pendidikan karakter merupakan gambaran tentang kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh satuan pendidikan, serta menjadi dasar dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa. Pendidikan karakter lebih mudah  diberikan pada usia dini, hal ini akan mudah diterima dan tersimpan dalam memori anak, dan akan membawa pengaruh pada perkembangan watak dan pribadi anak hingga dewasa. Menurut Daniel Golemen dalam bukunya Kecerdasan Ganda menyebutkan bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan dibutuhkan 80%, sedangkan kecerdasan intektual hanya sebesar 20%. Oleh sebab itu, masa sekolah dasar merupakan masa dimana perkembangan kecerdasannya sangat tinggi. Siswa sekolah dasar mulai mengenal segala pola perilaku lingkungan sekitar dengan sangat aktif seperti : menirukan perilaku orang dewasa, meniru gaya artis idolanya, dan meniru segala sesuatu yang dilihatnya. Dengan berkembangnya iptek secara pesat dan dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat termasuk siswa sekolah dasar, maka hal itu dapat memberi efek yang positif dan negatif bagi perkembangan karakternya. Dan di sini tugas pendidik adalah mengarahkan segala perilaku peserta didik guna membentuk karakter yang positif. Maka dari itu pendidikan karakter sangat penting diberikan kepada siswa sekolah dasar agar dalam perkembangan selanjutnya tidak hanya intelektualnya saja yang berkembang, tapi juga memiliki karakter yang baik sehingga siswa sekolah dasar tersebut dapat beradaptasi dalam kehidupan masyarakat.
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru sekolah dasar  tidak hanya mentransfer materi pembelajaran kepada siswa, tetapi juga berperan aktif dalam medidik karakter atau kepribadiannya. Banyak guru sekolah dasar yang menguasai materi pembelajaran dengan baik tetapi dalam kegiatan belajar mengajar kurang memperhatikan perkembangan perilaku masing-masing siswanya. Akibatnya guru tersebut kesulitan mengenali karakter masing masing siswanya yang pada masa-masa itu sedang mengalami perkembangan kecerdasan, baik emosional maupun kecerdasan intelektual dengan pesat.
Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan pendidikan karakter bagi siswa sekolah dasar. Banyak hal yang dapat dilakukan guru sekolah dasar untuk mendidik dan mengarahkan perkembangan karakter siswanya. Bisa dengan kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat nonformal. Tetapi kegiatan tersebut dapat menanamkan nilai-nilai luhur yang dapat berpengaruh dalam perkembangan karakter siswanya. Dalam hal ini pramuka dapat menjadi salah satu alternative kegiatan ekstrakurikuler yang paling tepat dalam pendidikan karakter siswa sekolah dasar, karena terdapat nilai-nilai positif yang terkandung dalam setiap kegiatannya.

C.   Pengertian Gerakan Pramuka
1.    Definisi Gerakan Pramuka
Unsur di dalam pendidikan nonformal adalah pendidikan kepemudaan. Unsur yang ada di dalam pendidikan kepemudaan adalah Gerakan Pramuka.  Dalam UU No. 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, disebutkan Gerakan Pramuka adalah  organisasi yang dibentuk oleh pramuka untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Gerakan pramuka merupakan wadah pendidikan generasi muda dari usia  7 – 25 tahun, yang mempersiapkan anggotanya untuk mempunyai karakter bangsa sesuai dengan dasa darma dan tri satya.


2.    Tujuan Gerakan Pramuka
Tujuan dari Gerakan Pramuka untuk membentuk setiap anggota pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin,  menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup. Tujuan dari Gerakan Pramuka sejalan dengan fokus pendidikan karakter yang menjadi program utama Kementerian Pendidikan Nasional.
Dalam menanamkan dan menumbuhkan karakter bangsa, di kepramukaan mempergunakan 10 pilar yang  menjadi kode kehormatan. Kode kehormatan mempunyai makna suatu norma (aturan) yang menjadi ukuran kesadaran mengenai akhlak yang tersimpan dalam hati yang menyadari harga dirinya, serta menjadi standar tingkah laku pramuka di masyarakat. 10 pilar tersebut bernama dasa dharma, yaitu :
  1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
  3. Patriot yang sopan dan kesatria.
  4. Patuh dan suka bermusyawarah.
  5. Rela menolong dan tabah.
  6. Rajin,terampil dan gembira.
  7. Hemat,cermat dan bersahaja.
  8. Disiplin, berani dan setia.
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya dan
  10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
Dalam mengimplementasikan 10 pilar tersebut, antara anggota penggalang, penegak dan pandega hingga anggota dewasa disesuaikan dengan perkembangan rohani dan jasmani. Sedangkan untuk  anggota siaga pilar yang digunakan untuk menanamkan pendidikan karakter melalui  Dwi darma, yang berbunyi sebagai berikut “ Siaga itu menurut ayah dan bundanya, serta siaga itu berani dan tidak putus asa”.  Mengingat usia siaga masih senang dengan bermain, maka dalam menanamkan norma pramuka melalui media permainan dan visualisasi, serta contoh dari bunda dan ayahandanya.
Setiap item dalam sepuluh pilar  tersebut, dijabarkan dalam  satuan kecakapan khusus (SKK) yang menjadi alat  untuk mengetahui perkembangan kemampuan dan keterampilan dalam menerapkan norma-norma yang ada. Bila anggota pramuka usia 11 hingga 25 tahun mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari pilar norma yang ada, tentunya akan menjadi kebanggaan bagi peserta didik itu sendiri. Sedangkan anggota  dewasa menjadi  pembimbing  dan memantau dalam menghayati dan melaksanakan di kehidupan sehari-hari. Tidak setiap anggota dewasa diperbolehkan menjadi pembimbing  langsung anggota pramuka usia 7 s.d 25 tahun, karena pembimbing harus menjadi contoh bagi adik didiknya. Untuk itu anggota pramuka dewasa yang diijinkan menjadi pembina/pembimbing  sudah menyelesaikan minimal pelatihan kursus pembina pramuka mahir dasar (KMD) atau jenjang KML. Dengan harapan adanya persepsi yang sama di seluruh Indonesia tentang tata cara penanaman dan penumbuhan karakter bangsa melalui kepramukaan. Sehingga hasilnya bisa dipertanggung jawabkan.
Pola pembinaan antara anggota usia 7 s.d 10 dengan anggota pramuka usia 21 s.d.25 tahun disesuaikan atau tidak sama. Semakin tinggi usianya semakin kecil keikut serta anggota dewasa untuk mendampingi. Semakin kecil usianya keterlibatan pembina semakin besar bahkan ada yang  90% pembina harus mendampingi, seperti pada anggota pramuka siaga. Untuk itu khusus anggota siaga, panggilan pembina bukan kakak tapi bunda dan yanda. Hal ini sesuai dengan sistem among yang digunakan dalam salah satu prinsip metode pendekatan di kepramukaan.
Sistem among adalah proses pendidikan kepramukaan yang bertujuan untuk membentuk peserta didik agar berjiwa merdeka, disiplin dan mandiri dalam hubungan timbal balik antar manusia. Sistem among selalu terimplementasikan dalam kegiatan pramuka mulai tingkatan anggota siaga hingga dewasa, dengan cara atau pola yang dipergunakan disesuaikan dengan usia peserta didik, sehingga memudahkan dalam menanamkan karakter bangsa dan dapat tersimpan lama dalam memory pikiran. Terdapat 3  prinsip  dalam sistem among, yaitu di depan menjadi teladan, ditengah membangun kemauan dan di belakang mendorong dan memberikan motivasi kemandirian.
Makna diatas, untuk anggota siaga ketergantungan ke pembina masih besar sebanyak 90%, sehingga pembina menjadi sentra atau contoh bagi anggota siaga. Sedangkan anggota penggalang tingkat ketergantungan  ke pembina sebesar 60%. Pembina masih menjadi sentra dalam kegiatan pramuka, namun semakin tinggi tingkat penggalang semakin besar tingkat kemandiriannya. Di dalam penggalang ada tiga tingkatan, yaitu Ramu, Rakit, dan Terap.
Ketergantungan pembina semakin kecil pada anggota penegak dan pandega hanya 10 %, karena anggota pramuka penegak dan pandega sudah cukup dewasa utamanya pada pandega, sehingga bisa melaksanakan kegiatan pramuka secara mandiri, pembina hanya berfungsi sebagai motivator dan konsultan program.
Dengan adanya sistem among tersebut, karakter anggota pramuka sudah terpantau  sejak usia 7 tahun dan terus dipantau sampai berhenti menjadi anggota pramuka. Sedangkan  anggota dewasa, untuk memantapkan penanaman karakter melalui jenjang kursus, mulai kursus pembina pramuka mahir dasar dan lanjutan, hingga jenjang  kursus pelatih pembina pramuka tingkat dasar hingga tingkat lanjutan.
3.    Kegiatan Pramuka Penggalang di Sekolah Dasar
a.    Pengertian Pramuka Penggalang
Penggalang adalah sebutan bagi Anggota Pramuka sekolah dasar yang berusia antara 11-15 tahun. Disebut Pramuka Penggalang karena sesuai dengan kiasan (kiasan dasar) masa perjuangan bangsa Indonesia, yaitu ketika rakyat Indonesia, khususnya para pemuda dan pemudi Indonesia menggalang kesatuan untuk medeklarasikan janji atau sumpah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda, pada tanggal 28 Oktober tahun 1928 sebagai tonggak awal bersatunya kaum muda dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.
Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie namun sampai saat ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka. Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab.
Johanna Masdani Tumbuan termasuk di antara 71 pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda Kedua, Oktober 1928 dan turut serta mengikrarkan Sumpah Pemuda yang berlangsung di sebuah gedung yang terletak di Jalan Kramat Raya no. 106 Jakarta Pusat.
b.    Kode kehormatan
Dalam menanamkan dan menumbuhkan karakter bangsa, di kepramukaan khususnya penggalang, mempergunakan 10 pilar yang  menjadi kode kehormatan. Kode kehormatan mempunyai makna suatu norma (aturan) yang menjadi ukuran kesadaran mengenai akhlak yang tersimpan dalam hati yang menyadari harga dirinya, serta menjadi standar tingkah laku pramuka di masyarakat. 10 pilar tersebut bernama dasa dharma, yaitu :
  1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
  3. Patriot yang sopan dan kesatria.
  4. Patuh dan suka bermusyawarah.
  5. Rela menolong dan tabah.
  6. Rajin,terampil dan gembira.
  7. Hemat,cermat dan bersahaja.
  8. Disiplin, berani dan setia.
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya dan
  10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
Dalam mengimplemasikan 10 pilar tersebut, anggota Pramuka Penggalang, disesuaikan dengan perkembangan rohani dan jasmaninya.  10 pilar Kode Kehormatan yang disebutkan di atas adalah standar moral bagi seorang Pramuka Penggalang dalam bertingkah laku di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Jadi kalau ada seorang anggota Pramuka Penggalang yang tingkah lakunya tidak sesuai dengan standar moral ini, dia belum bisa disebut Pramuka Penggalang seutuhnya.
c.    Satuan
Satuan terkecil dalam Pramuka Penggalang disebut Regu. Setiap beberapa Regu dihimpun dalam sebuah satuan besar yang bernama Pasukan. Regu putra diberi nama dengan nama binatang, sedangkan Regu putri diberi nama dengan nama bunga, semisal, Regu Cobra, Regu Mawar dll. Satu Regu beranggotakan antara 6 - 8 orang Pramuka Penggalang, dan dipimpin oleh seorang Pemimpin Regu (Pinru) yang dipilih oleh anggota regu itu sendiri. Masing-masing Pemimpin Regu akan memilih satu orang dari mereka yang akan menjadi Pemimpin Regu Utama yang disebut Pratama. Satu Pasukan terdiri dari beberapa Regu yang akan dipimpin oleh Pratama tersebut.
d.    Syarat Kecakapan
1)   Syarat Kecakapan Umum
Syarat Kecakapan Umum (SKU) Pramuka Penggalang adalah syarat wajib yang harus dipenuhi oleh seorang Pramuka Penggalang untuk mendapatkan Tanda Kecakapan Umum (TKU). TKU dalam Pramuka Penggalang ada tiga tingkat, yaitu:
Ø  Penggalang Rakit
Ø  Penggalang Terap

2)   Syarat Kecakapan Khusus
Syarat Kecakapan Khusus (SKK) adalah syarat wajib yang harus dipenuhi oleh seorang Pramuka Penggalang untuk mendapatkan Tanda Kecakapan Khusus (TKK). TKK dalam Pramuka Penggalang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu madya, purwa, utama.
3)    Lain-lain
  • Pembina Pramuka Penggalang putra atau putri dipanggil Kakak.
  • Pembantu Pembina Pramuka Penggalang putra atau putrid dipanggil Kakak.
  • Bentuk barisan dalam Upacara Penggalang adalah angkare, ini mengandung filosofi bahwa cara pandang Pramuka Penggalang sudah mulai terbuka tidak terfokus pada satu titik seperti Siaga.
  • Berbagai Kegiatan untuk Penggalang, diantaranya Lomba Tingkat, Dian Pinru, Jambore, dll.
D.   Pendidikan Karakter melalui Kegiatan Pramuka di Sekolah Dasar
Semua orang sudah tahu bahwa dalam perkembangan zaman saat ini, pendidikan karakter sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Terutama pembelajaran anak sekolah dasar yang pada dasarnya sedang mengalami perkembangan kecerdasan secara pesat baik emosional maupun intelektualnya. Oleh karena itu, untuk menanggulangi adanya pengaruh yang negatif dalam perkembangan kecerdasannya dibutuhkan suatu pendidikan karakter yang tepat.
Pramuka sebagai suatu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar dapat menjadi sarana seorang guru  untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang berpengaruh dalam pendidikan karakter siswanya.Karena kegiatan belajar mengajar saat ini lebih mengedepankan peningkatan  kecerdasan siswa dalam menguasai materi pembelajaran dan kurang mengedepankan dalam pendidikan karakter siswanya. Melalui kegiatan pramuka tersebut diharapkan siswa sekolah dasar dapat terdidik karakternya menuju ke arah yang lebih positif dan dapat menerapkan nilai nilai luhur kepramukaan dalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu kegiatan pramuka di sekolah dasar harus dilestari sebagai suatu sarana dalam mendidik karakter siswa.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh memastikan bidang kepramukaan akan menjadi satu-satunya ekstrakurikuler wajib, sejalan dengan diberlakukannya kurikulum pendidikan 2013. Hal ini dilakukan mengingat begitu pentingnya pendidikan karakter bagi peserta didik dalam kehidupannya, terutama siswa sekolah dasar yang dalam perkembangannya masih sangat membutuhkan  bimbingan dan pengarahan dalam  tingkah laku sehari-hari.
 Gerakan Pramuka selaku penyelenggara pendidikan kepramukaan mempunyai peran besar dalam penerapan pendidikan karakter generasi muda. Pendidikan karakter dari Pramuka diimplementasikan melalui kegiatan-kegiatan di alam terbuka. Sehingga kegiatan Pramuka menjadi menarik dan menyenangkan. Tetapi tetap berpegang teguh pada prinsisp dan metode kepramukaan. Kegiatan-kegiatan menarik dalam pramuka yang berada di alam terbuka misalnya yaitu            : wide game, berkemah, api unggun dll.
Semua kegiatan kepramukaan sangat memberi manfaat bagi pendidikan karakter peserta didik. Peserta didik dapat bekerja sama satu sama lain dalam memecahkan persoalan, mempunyai jiwa tolong menolong, menambah keberanian dan percaya diri, dan pramuka juga dapat melatih peserta didik untuk menjadi pribadi yang lebih berdisiplin. Oleh karena itu kegiatan pramuka di sekolah dasar sangat berpengaruh dalam pendidikan karakter siswa sekolah dasar.














BAB.III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Saat ini bangsa Indonesia telah mengalami degradasi moral.Hal ini disebabkan oleh kurangnya pendidikan yang mengarah pada pendidikan karakter.Akibatnya sering terjadi konflik antar warga,korupsi merajalela,pelecehan seksual,tawuran antar pelajat,dan berbagai penyimpangan yang mengakibatkan kehidupan masyarakat menjadi kurang kondusif,
Pendidikan karakter memang sangat penting bagi perkembangan kepribadian peserta didik,terutama siswa sekolah dasar yang pada dasarnya sedang mengalami perkembangan kecerdasan baik emosional maupun intelektual dengan sangat pesat.Pramuka sebagai suatu kegiatan ekstrakurikuler siswa dapat dijadikan sarana untuk mendidik karakter peserta didik karena dalam setiap kegiatannya mengandung banyak manfaat yang berguna bagi perkembangan emosi maupun intelektual peserta didik.Sehingga dalam perkembangan selanjutnya,bangsa Indonesia memiliki kader-kader atau generasi penerus yang berkarakter dan dapat membangun negara ini menjadi lebih baik lagi.
B.Saran
Sebaiknya pendidikan di negeri ini ditekankan pada pendidikan karakter.Mengingat banyak persoalan yang terjadi di negeri ini disebabkan oleh moral dari bangsa kita yang semakin menurun dari hari ke hari,kita dapat memulai hal tersebut dengan kegiatan pramuka di sekolah dasar.Memang hal tersebut terlihat sepele,namun akan terasa manfaatnya apabila peserta didik telah terjun dalam kehidupan masyarakat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar