BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Jazirah arab adalah tempat yang dipilih Allah sebagai
tempat kelahiran Rasulullah SAW dan juga sebagai tempat pertumbuhan islam.
Disamping itu secara geografis, jazirah arab terletak diantara umat - umat yang
sedang dilanda pergolakan.
Telah jelas bagi kita bahwa bangsa arab merupakan
masyarakat ummi bila dibandingkan umat-umat lain di sekitarnya, oleh
sebab itulah jazirah arab terpilih menjadi tempat diutusnya Rasulullah, karena
beliau juga seorang yang ummi adalah agar manusia tidak ragu akan
kenabiannya, dan agar mereka tidak memiliki banyak sebab keraguan terhadap
kebenaran dakwahnya.
Rey Arifin
(tt:356) mengatakan bahwa: “Dua belas tahun sudah sejak nabi Muhammad diangkat
menjadi nabi dan rasul. Dua belas tahun sudah beliau menyebarkan agama islam
ketengah masyarakt arab (kota
Mekah) yang sedang gelap gulita yang penuh dengan kejailan dan kejahatan, penuh
dengan fanatic buta terhadap agama-agama sesatnya itu ketika itu umat islam
hanya sedikit sekali, masih puluhan saja tetapi halangan dan ancaman sudah
ribuan macam dan ragamnya. Semua itu dihadapi nabi dan orang-orang islam dengan
tabah dan sabar, karena yakin akan kebenarannya”.
Namun, ternyata perjuangan
nabi dan pengikutnya tidak berakhir sampai disini. Tahapan demi tahapan
dilaluinya, mulai dari mereka hijrah ke Madinah sampai pada tahapan terakir
yang membanggakan, yaitu masuknya manusia ke dalam islam secara
berbondong-bondong. Masa membentang panjang hingga wafatnya Rasulullah SAW.
Maka dengan ini, penulis
tergugah hatinya untuk memaparkan pemerintahan dalam kepemimpinan Rasulullah
SAW, tidak terlepas dari tuntunan kewajiban sebagai mahaiswa dalam memenuhi
salah satu tugas yang diberikan oleh dosen dalam mata kulian Aqidah Akhlak.
Makalah ini berjudul “Analisis Kepemimpinan Rasulullah SAW dalam
pemerintahan”.
B.
Perumusan Masalah
Dalam
makah ini penulis merumuskan masalah-masalah, sebagai berikut:
1.
Bagaimana kepemimpinan Rasulullah SAW pada
pemerintahannya (formal)?
2. Bagaimana kepemimpinan Rasulullah SAW dalam
sistem informal?
C.
Tujuan Masalah
Adapun penulisan atau pembahasan ini
bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui kepemimpinan Rasulullah
SAW pada pemerintahannya (sistem Formal)..
2. Untuk mengetahui kepemimpinan Rasulullah
SAW dalam sistem informal.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kepemimpinan Rasulullah SAW dalam Sistem Formal.
Periode Mekkah dapat dibagi
tiga tahapan :
1. Tahapan dakwah secara
rahasia/sembunyi-sembunyi
2. Tahapan dakwah secara terang-terangan dengan menggunakan lisan saja tanpa
perang di tengah penduduk Mekkkah dimulai dari sejak tahun ke-4 hijriah
kenabian hingga akhir tahun ke-10
3. Tahapan di luar Mekkah dan penyebarannya
yang dimulai dari tahun ke-1 dari kenabian hingga hijrah ke Madinah
·
Tahapan
Pertama
Dakwah
secara rahasia/sembunyi-sembunyi
Nabi SAW mulai menyambut perintah Allah
dengan mengajak manusia untuk menyembah kepada Allah semata dan meninggalkan
berhala. Dakwah ini dilakukan secara rahasia dengan alasan untuk menghindari
tindakan buruk dari kaum Quraisy yang fanatik terhadap kemusyrikan dan
pagenesmenya.
Dakwah pada tahun ini menghasilkan sekitar
empat puluh orang masuk islam, kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan
budak dan orang-orang Quraisy yang tidak memiliki kedudukan.
·
Tahapan
Kedua
Dakwah
secara terang-terangan
Ibnu hisyam berkata : Kemudian secara berturut-turut manusia memeluk islam,
sehingga berita islam sudah tersiar di Mekkah dan menjadi bahan pembicaraan
orang. Lalu Allah SWT memerintah RasulNya menyampaikan islam secara
terang-terangan sesuai dengan firmannya :
Maka sampaikanlah olehmu secara
terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari
orang-orang yang musyrik.(AL-Hijr:94)
·
Tahapan
Ketiga
Bai’at
Aqabah
Bai’at Aqabah pertama yaitu dimana pada
waktu itu datang dua belas laki-laki dari Anshar pada musim haji untuk menumui
Rasulullah SAW di Aqabah. Kemudian mereka berbai’at kepada Rasulullah SAW untuk
mkengajarkan Al-Qur’an dan hukum-hukum agama kepada mereka.
Bai’at Aqabah kedua yaitu dimana Rasulullah
SAW mengajak supaya mengimani Allah SWT dan memberikan dorongan kepada islam
kemudian beliau bersabda : Aku bai’at kamu untuk membelaku sebagaimana kamu
membela istri-istri dan anak-anakmu..
Periode Madinah dibagi menjadi tiga
tahapan :
1. Tahapan masa yang banyak diwarnai
guncangan dan cobaan. Tahapan ini dimulai dari permulaan hijrahnya Rasulullah
SAW dan berakhir dengan dikukuhkannya perjanjian Hudaibiyah pada bulan
Dzul-Qaidah tahun ke-6 dari hijrah.
2. Tahapan masa perdamaian dengan para
pemimpin paganisme, yang berakhir dengan Fathu Makkah pada bulan ramadlan tahun
ke-8 dari Hijrah.
3. Tahapan masa masuknya manusia kedalam
islam secara berbondong-bondong. Masa ini membentang hingga wafatnya Rasulullah
SAW pada Rabiul Awal tahun ke-11 dari hijrah.
Beberapa saat setelah terjadinya
Futuh Makkah, kaum muslimin yang menjadi pengikut setia Rosulullah Shallalahu
‘alaihi wa sallam semakin bertambah banyak. Mereka datang dari berbagai
kabilah, suku, bahkan negeri yang berlainan, termasuk pula warna kulit mereka.
Kenyataan seperti ini ternyata menjadi sesuatu yang ditakutkan oleh kaum
musyrikin Quraysi waktu itu. Dalam pandangan mereka bertambahnya jumlah kaum
muslimin pertanda semakin kuatnya pasukan para hamba Allah itu dan semakin
kuatnya kaum muslimin berarti kekuasaan akan mudah untuk mereka raih. Terlintas
pula dalam pikiran mereka bahwa kekuasaan selama ini yang selama ini mereka
pegang dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi akan
terlepas begitu saja serta menjadi milik Rasulullah SAW dan pengikutnya.
Semua dugaan dan dan perkiraan
kaum musrikin Quraisy seperti di atas tadi sebenarnya keliru. Kekuasaan
ternyata bukanlah sebuah target yang akan dicapai oleh Rasulullah. Kebesaran
dan kekuasaan dalam pandanganya merupakan anugrah dan amanah yang Allah Subhanahu
Wata’ala berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.
Dahulu, ketika perjuangan baru dimulai, Rasulullah pernah pula didatangi
oleh para pembesar kaum Quraisy. Mereka merasa terancam kedudukannya oleh
gerakan dakwah beliau hingga akhirnya mereka kasak-kusuk kesana kemari. Kepada
Abu Thalib, paman Rasulullah, mereka menawarkan apapun untuk Rasulullah
seperti wanita, harta berupa perhiasan emas, permata, atau bahkan kekuasaan
(jabatan), dengan satu tuntutan, beliau menghentikan laju dakwahnya. Dan kepada
pamannya itu beliau berpesan untuk disampaikan kepada mereka bahwa semua
tawarannya itu (termasuk tawaran kekuasaan) ditolak. Beliau menyatakan
”Sekalipun matahari mereka letakan di tangan kananku,dan bulan di tangan
kiriku, tidak akan kutinggalkan dakwahku ini sedikitpun”.
Melalui berbagai petikan sejarah di atas, dapat kita pahami bersama
betapa kekuasaan (jabatan) tak dilirik sedikitpun oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam, apalagi materi dunia yang menyertai hal itu. Padahal dengan pandangan kita, dengan semua itu
dakwah pasti berjalan lurus dan sukses. Sekali lagi ternyata tidak demikian
dalam pandangan manusia sejati, Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam.
Satu-satunya tujuan dan cita-cita perjuangannya adalah tunduknya semua umat
manusia dengan tulus dan utuh kepada Allah Subhanahu Wata’ala, taat dan patuh
kepada semua aturan dan syari’at-nya serta pengakuan bahwa Allah saja tuhan
yang Maha Kuasa dan Pemilik segala kekuasaan itu sendiri.
Ketundukan manusia secara
fisik atau lahir kepada kekuasaan yang ada bukanlah suatu yang hakiki dalam
pandanganya dan tidak cukup itu saja. Tunduknya jiwa dan raga serta diikuti
oleh penyertaan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala itulah
yang menjadi hakikat maknanya sebuah kata ‘kekuasaan’, dan itu hanya milik
Allah semata.
Kepimpinan Rasulullah SAW
tidak hanya untuk menyelamatkan umat tetapi yang dimaksudkan adalah teladan dan
panduan Rasulullah SAW kepada umatnya. Firman Allah SWT:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الاٌّخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
“Sesungguhnya
Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (TMQ al-Ahzab : 21)
Adapun beberapa hal yang telah di tempuh oleh Rasulullah SAW
dalam pemerintahanya yaitu :
(1) Menjelaskan
ajaran yang dibawanya, dengan menjelaskan aqidahnya secara keseluruhan maupun
bagian-bagiannya, dasar-dasar dan perkara-perkara. Sambil menyeru daya intelektual manusia, untuk
menarik perhatian manusia terhadap keimanan kepada aqidah yang disampaikan
kepada mereka, dengan uslub (gaya
dan teknik) yang inovatif, dengan mengeksploitasi semua kemudahan dan peluang
yang tersedia (selagi tidak bertentangan dengan Islam) untuk menjelaskan aqidah
Islam dan menjauhkan kekaburan yang melekat.
(2) Menampilkan
kekeliruan pemikiran yang rusak dan aqidah yang batil, seperti ateisme, syirik,
kekufuran dan khususnya pemikiran yang kabur, yang dianggap oleh sebagian orang
sebagai akibat penyesatan. Tetapi sebagian orang Islam menganggapnya sebagai
pemikiran Islam atau digali dari semangat Islam seperti Sosialisme, Demokrasi,
Patriotisme, Nasionalisme dan lain-lain.
(3) Di
antara kesulitan utama adalah kepatuhan umat islam kepada para pemimpin, karena
itu wajib mengikuti kaidah yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dengan menjelaskan
kepalsuannya.
(4) Menjelaskan
berbagai kerusakan yang ada di tengah umat termasuk berbagai jenis interaksinya.
Juga menjelaskan kerusakan hukum-hukum yang mengatur interaksi umat yang menyeret
mereka ke dalam berbagai kesengsaraan, serta menyebabkan pemerintahan itu
ditimpa kerusakan dan kehancuran.
(5) Menyiapkan
calon pemimpin-pemimpin yang berusaha untuk memimpin umat agar mereka sesuai
dengan taraf intelektual yang mereka kembangkan, memiliki cara berfikir
(‘aqliyyah) dan berperilaku (nafsiyyah) yang Islami.
Keteladanan Rasulullah
dalam memimpin tak diragukan lagi. Tindak-tanduk dan sepak terjang beliau dalam
memimpin merupakan cermin pribadi mulia. Sebagai sosok pemimpin, beliau selalu
mengedepankan nilai akhlak. Tataran ini kerap menjadi panutan generasi dimasa
dan sesudahnya. Tataran akhlak yang ditampilkan Rasulullah bukan saja menjadi
perisai kepribadian, melainkan juga mampu meluluhkan kekerasan hati siapa pun
yang memusuhinya. Itulah sebabnya, Rasulullah dapat dikategorikan sebagai
manusia istimewa. Keistimewaaan ini merupakan muara penyebarluasan rahmat bagi
alam semesta
Keistimewaan yang ada
dalam diri Rasulullah dapat kita selusuri dari rangkaian ayat-ayat Al-Qur'an.
Pada Al-Qur'an, kita temukan para nabi sebelum nabi Muhamad SAW selalu diseru
oleh Allah SWT dengan nama-nama mereka, "Ya Adam..., Ya Musa..., Ya
Isa..., dan sebagainya.
Tetapi terhadap nabi
Muhamad SAW, Allah sering memanggilnya dengan panggilan kemuliaan, seperti
"Ya ayyuhan Nabi..., Ya ayyuhar Rasul..., atau memanggilnya dengan
panggilan-pangilan mesra, seperti "Ya ayyuhal muddatstsir, atau ya ayyuhal
muzzammil (wahai orang yang berselimut)."
Keistimewaan lain yang dapat
dipaparkan berkaitan dengan pola kepemimpinan Rasulullah, antara lain:
1.
Pemimpin yang zuhud.
Gambaran ini dapat kita
simak dari salah satu riwayat, Rasulullah bersabda, "Tuhanku telah
menawarkan kepadaku dengan menukar bukit-bukit di Mekkah menjadi emas. Tetapi
aku mengatakan kepadaNya : Ya Allah, aku lebih suka makan sehari dan lapar pada
hari berikutnya, jika aku dalam keadaan lapar, maka aku akan mengingatMu. Dan
jika aku dalam keadaan kenyang, maka aku pun dapat memujiMu serta bersyukur
atas nikmat-nikmatMu."
2.
Pemimpin yang amanah dan professional.
Rasulullah
pernah bersabda bahwa pemimpin adalah pelayan umat. Sikap amanah dan
profesional Rasulullah ini diikuti oleh khalifah-khalifah sesudah Rasulullah
SAW pada zamannya. Diantaranya Khalifah khulafaurrasyidin
3.
Nabi SAW pemimpin yang dicintai Allah.
Ada perbedaan yang signifikan antara sikap
Allah terhadap kepemimpinan Nabi SAW dengan kepemimpinan Nabi-nabi sebelumnya.
Akhirnya, di
penghujung kepemimpinan Rasulullah SAW, beliau menyampaikan risalah
terakhirnya, ketika itu Rasulullah SAW berdiri di depan seluruh ummat untuk
memberikan pidato terakhirnya. Dapat dikatakan sebagai laporan
pertanggungjawaban kenabiannya di hadapaan manusia. Banyak mutiara yang keluar
dari mulut suci tersebut. Ada
deklarasi persamaan manusia. Ada juga deklarasi hak - hak wanita. Dan
juga penyampaian bahwa agama Islam resmi disempurnakan dan diridhai Allah, yang
segera disambut pekik takbir kegembiraan seluruh umat (kecuali Abu Bakar. Beliau malah menangis, karena tahu apa
maksud lain dari wahyu tersebut).
Di penghujung pidato tersebut, Nabi bersabda,
"Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah tentang a pa
yang telah aku perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?"
Para sahabat
terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata.
Nabi melanjutkan, "Bukankah telah kujalani
hari-hari bersama kalian dengan lapar? Bukankah telah kutaruh beberapa batu di
perutku karena menahan lapar bersama kalian? Bukankah aku telah bersabar
menghadapi kejahilan kalian? Bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari
Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab,
"Benar ya Rasulullah!"
Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan
berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah... Ya Allah saksikanlah!" Nabi meminta
kesaksian Allah bahwa beliau telah menjalankan tugasnya. Mungkin inilah
rahasia sukses besar kepemimpinan Rasulullah, yang tak sanggup dicontoh oleh
manusia
lainnya. Dari cuplikan pidato beliau tersebut dapat kita ambil 3 pilar utama
kepemimpinan:
1. Penyampaian risalah (= mendidik rakyat)
2. Sabar atas kejailan pengikut
3. Hidup setara dengan standar rakyat
Betapa banyak pemimpin yang sanggup berkhotbah dan
berpidato mengajari rakyat dan pengikutnya, tapi tak sanggup sabar atas sedikit
kelemahan dan secuil kesalahan rakyatnyaApalagi jika harus hidup setara dengan
rakyat umum. Fasilitas khusus untuk pemimpin sudah jadi sesuatu. Rasulullah
sanggup! Dan beliau memilih jalan hidup tersebut dengan penuh keikhlasan dan
kecintaan.
Dan hanya kebodohan yang tak tau sejarah,
kesombongan yang membungkam akal dan kedengkian yang menutupi hati
saja yang akan membuat manusia mampu mencela dan memfitnah Rasulullah.
B. Kepemimpinan-Kepemimpinan Rasulullah SAW
dalam Sistem Informal
- Rasulullah
Sebagai Tokoh Masyarakat , Pembangun
Kegiatan Ekonomi dan Perdagangan
Allah SWT benar – benar ingin
menguji seseorang yang kelak akan diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Saat
mengembala, beliau merenung dan berfikir, yang menyebabkab beliau jauh dari
pemikiran duniawi dan terhindar dari noda yang merusak namanya. Sejak muda,
beliau sudah terkenal sebagai orang yang terpercaya. Ketika Rasulullah SAW
berusia 12 tahun, Abu Thalib mengajak beliau untuk berdagang ke Negeri Syam
(Syiria). Sekalipun hanya ikut membantu pamannya, Rasulullah SAW sangat
bersemangat dan tekun. Ia belajar bagaimana cara berdagang dan melayani para
pembeli dengan baik. Sikapnya yang sangat sopan dan ramah membuat masyarakat di
sekitar negeri Syam tertarik.
Ketika Rasulullah SAW menginjak
dewasa, yaitu 25 tahun, beliau kembali berdagang ke Negeri Syam. Namun dalam
perjalanan kali ini, beliau tidak lagi ditemani oleh pamannya. Kali ini, beliau
dipercaya untuk menjual barang dagangan milik Khadijah, seorang janda kaya raya
yang amat disegani oleh masyarakat Arab ketika itu. Alasan Khadijah menyerahkan
barang dagangan kepada beliau yaitu karena Khadijah telah mendengar kebaikan,
kejujuran, dan keuletan Nabi dalam berdagang.
Dalam perjalanan ke negeri
Syam, Nabi Muhammad SAW ditemani oleh seorang pembantu yang bernama Maisyaroh.
Maisyaroh adalah seorang kepercayaan Khadijah yang sangat berpengalaman dalam
berdagang. Atas bantuan Maisyroh, Rasulullah SAW tidak mengalami kesusahan
untuk berdagang di Negeri Syam.
Dalam perdagangan bersama
maisyaroh, Rasulullah SAW mendapatkan keuntungan yang besar. Hal ini ia
dapatkan karena selama berdagang ia sangat tekun, jujur, ramah, dan murah
senyum kepada para pembeli yang dating.
Rasulullah SAW tidak pernah
membohongi pembeli. Jika ada barang yang cacat, maka beliau menunjukkan
kecacatannya. Jika barang tersebut berharga murah, maka beliau tidak akan
menjual dengan harga yang mahal. Jika barang itu banyak, maka beliau tidak
pernah menimbun barang tersebut agar mendapat keuntungan yang lebih besar.
Beliau memberitahukan harga jual yang telah ditentukan oleh majikannya. Beliau
akan mengatakannya dengan jujur, sehingga pembeli tertarik untuk membeli barang
dagangannya.
Karena kejujuran dan
kepandaian beliau dalam berbisnis, beliau mendapatkan laba yang sangat besar
dan Khadijah tertarik untuk melamarnya.
Demikian kisah Rasulullah SAW dalam
membangun masyarakat melalui kegiatan ekonomi dan perdagangan. Sebagai umatnya,
kita harus meneladani beliau. Dikala muda, beliau sudah mencari nafkah untuk
hidupnya sendiri, beliau mengembala kambing dan berdagang untuk memenuhi
kebutuhannya. Keuletan, kejujuran, dan keramah – tamahan beliau sudah
seharusnya kita teladani dalam kehidupan sehari – hari.
- Kepemimpinan Rasulullah sebagai pemimpin keluarga.
Rasulullah
adalah manusia sempuma yang tidak mempunyai cacat sedikitpun, semua apa yang
beliau aplikasikan selalu sesuai dengan iradat Allah, sehingga julukan Al-Amien
yang beliau sandang tidak patut untuk dipermasalahkan. Gerak-gerik Rasulullah adalah hikmah dan tutur
sapanya adalah nasehat. Kita selaku ummatnya harus menerjemah kan apa yang telah
beliau lakukan sekaligus mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-sehari.
Begitu pun
dalam berkeluarga, kehidupan yang penuh cinta dan keharmonisan yang di hiasi
kasih sayang bisa beliau gapai. Hal ini membuktikan bahwa beliau berhasil
membina dan memimpin rumah tangga yang beliau hadapi. Beliau selalu menge
depankan keadilan dan kejujuran, tranformasi ilmu dari Allah dilakoni dengan
sebenamya. ini bukan karena beliau menjadi kekasih Allah tetapi beliau lebih
menginginkan apa yang beliau praktekkan nantinya bisa dicontoh oleh umatnya.
Dari sekian
banyak perempuan yang beliau nikahi, tak satupun yang pemah dikecewakan, perlakuan
baik selalu mengumbar damai dari kelembutan bicara dan keindahan akhlaqnya,
malah beliau tidak segan-segan menisik dan mencuci baju sendiri manakala sang
istri sibuk dan terlupakan untuk menisik dan mencucinya. Dalam berbicara tak
pemah berkata dusta, hal yang hak dan bathil disampaikan sebagaimana mestinya,
dalam melangkah dan bertindak beliau penuh keadilan, setiap permasalahan yang
beliau hadapi ataupun pengaduan istri beliau tidak serta merta memutuskan
dimana yang benar ataupun yang salah, beliau tetap menjalankan apa yang telah
dianjur kan Allah yaitu bermusyawarah. Beliau berkeyakinan bahwa dengan
musyawarah akan menemu kan titik terang yang baik.
Walaupun tidak
hanya sekali Rasulullah mengawini perempuan, beliau tetap memperlakukan
istri-istri sebagaimana yang telah disyariatkan Allah. Hak dan kewajiban
terlaksana sesuai aturan dan keadilan selalu menghiasi pernak-pernik keluarganya.
Kewajiban memberi makan dan menafkah kan keluarganya beliau kerjakan sendiri
tanpa meminta bantuan sedikitpun pada sahabat, sedangkan hak-hak isteri beliau berikan
penuh cinta dan keikhlasan
Ibunda kita Aisyah Ra pernah
bercerita keluarga Rasulullah SAW selama dua bulan purnama tungku api dapur di
rumah istri-istri beliau tidak menyala. Rasulullah SAW dan keluarga beliau
selama itu setiap hari hanya makan dan minum dengan kurma dan air yang tidak
jernih. Tatkala pagi tidak ada makanan di rumah beliau pun berpuasa dan tidak
pernah mengeluhkan keadaan tersebut.
Kehidupan
Rasulullah yang bersahaja bukan karena beliau malas bekerja, bahkan beliau
seorang pekerja keras dan cerdas. Rasulullah juga menjahit sendiri pakaian
beliau yang sobek. Setiap pulang ke rumah belum ada makanan tersedia, beliau
pun langsung menyingsingkan lengan bajunya sambil tersenyum membantu istrinya
di dapur. Sewaktu muda beliau seorang pedagang yang kaya dan terpercaya karena
keamanahan dan kejujuran beliau.
Berbeda
dengan sifat Rasulullah yang penyabar dikala sempit harta dan senantiasa
langsung berinfak ketika mendapatkan harta membuka tirai hati dengan keikhlasan
dan kelem butan tutur sapanya.
Begitulah kehidupan
Rasulullah dalam membangun dan memimpin keluarganya sehingga istri-istri
Rasulullah dibuat tak berdaya menghadapi kelembutan akhlaqnya. Mereka merasa
malu berta nya karena takut salah dan mereka tidak menegur Rasul karena memang tidak
ada kesalahan yang pantas ditegur. Dalam pandangan isteri-isterinya beliau
manusia sempuma yang tidak pemah berbuat kesalahan.
- Kepemimpinan Rasulullah Sebagai Tokoh Agama.
Sebagai seorang pemimpin, Rasulullah SAW tidak
mudah tergoda atau terayu oleh kesenangan duniawi. Berulangkali kaum kafir
Quraiys mengiming-iming Rasulullah
SAW dengan janji-janji muluk,
baik dengan imbalan wanita, harga benda, asal Muhammad mau berhenti
mendakwahkan Agamanya. Rasulullah itu tetap “istiqamah”. Kerendahan hati Rasulullah
itu banyak sekali ternukil dalam hadits-hadits. Meski ia seorang Rasul, kepala negara, namun ia
tetap hidup dengan sederhana. Ia menjahit sendiri sepatunya yang koyak. Ia
menimba air sendiri untuk keperluannya sehari-hari, serta banyak lagi pekerjaan-pekerjaan
yang ia kerjakan sendiri.
Meskipun demikian, rasulullah adalah orang
yang tegas terhadap tindak tanduk dan perlawanan orang-orang kafir, rasulullah
tidak segan-segan berkata tidak ketika dihadapkan dengan pilihan yang
menyebabkan ternistanya umat Islam. Bahkan rasulullah Saw sanggup mengayunkan
pedangnya dalam menghadapi orang-orang kafir yang hendak menganiaya dan
menindas umat Islam dan kaum lemah.
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan
Satu kekeliruan di kalangan umat Islam ialah melihat Rasulullah SAW hanya
sebagai suami, ayah atau datuk tetapi tidak melihat bahwa beliau juga
berperanan sebagai pemerintah, hakim, dan panglima tentera. Oleh karena itu
ramai yang membicarakan tentang satu aspek kehidupan beliau yaitu aspek keluarga
adapun banyak aspek lain dalam kehidupan beliau khususnya usaha gigih beliau
berdakwah kepada umat islam dan perjuangan beliau menegakkan Islam diabaikan.
Dakwah Islam harus dilakukan agar Islam dapat diterapkan dalam kehidupan dan
agar Aqidah Islamiyah dapat menjadi dasar negara dan dasar perlembagaan serta
undang-undang karena Aqidah Islamiyah adalah aqidah aqliyah (aqidah yang
menjadi dasar pemikiran) dan aqidah siyasiyah (aqidah yang menjadi dasar
politik) yang melahirkan peraturan untuk menangani masalah manusia secara
keseluruhan, baik di bidang politik, ekonomi, budaya, sosial, dan lain-lain.
Allah SWT berfirman :
وَلْتَكُن مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ
وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
”Hendaklah ada di antara kalian
sekelompok umat yang menyerukan kebaikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi
mungkar.” (Qs. Ali-Imran [3]: 104).
Amar makruf nahi mungkar adalah bagian
dari dakwah Islam. Baik-buruknya umat salah satunyabergantung pada dilaksanakan
atau tidaknya amar makruf nahi mungkar. Imam al-Ghazali pernah berkata,“Sesungguhnya
kegiatan amar makruf nahi mungkar adalah poros yang paling agung dalam agama.
Kerana kegiatan inilah Allah mengutus para nabi seluruhnya. Seandainya umat
Islam meremehkan amar makruf nahi mungkar, tidak mau memahami dan
mengamalkannya, tentu akan berhenti keNabian ini; kesesatan akan tersebar
luas, kebodohan akan menjadi hal yang lumrah, kerusakan akan merajalela,
pelanggaran akan semakin meluas, negeri-negeri akan hancur, dan manusia akan
binasa.” (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, 2/306).
Apabila diberi wahyu, Rasulullah SAW menegaskan
kepada isterinya bahwa tidak ada hentinya baginya dalam berdakwah
dan ini beliau benar-benar tunjukkan dalam kehidupannya. Dakwah dilakukan tidak
hanya untuk mengajak orang masuk Islam tetapi kemudian membiarkannya memenuhi
keperluan hidupnya dan membangun interaksinya berdasarkan kedaulatan hukum
selain Allah SWT. Rasulullah SAW berdakwah di Makkah selama 10 tahun tetapi
setelah itu beliau ke Taif untuk mencari dokongan fizikal bagi dakwahnya.
Kenapakan beliau ingin mendapatkan dokongan itu? Rasulullah SAW berjalan menuju
Taif dalam usaha untuk mencari dukungan (talab an-nusrah) dari Bani Tsaqif
supaya mereka memberikan kepimpinan dan kekuasaan untuk menegakkan Islam.
Tanggapan dari Bani Tsaqif sangat mengecewakan. Rasulullah saw meminta mereka
untuk merahsiakan penolakan mereka. Bani Tsaqif tidak sahaja menolak Rasulullah
SAW, mereka bahkan mengerahkan orang-orang bodoh dan hamba-hamba untuk menghina
dan mengusir beliau dari Taif. Rasulullah SAW berlindung di kebun milik Utbah
bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabia’h. Itu semua tidak sedikit pun mematahkan
semangat beliau untuk terus berdakwah sehinggalah beliau mendapat kepercayaan
dari penduduk Madinah yang bersetuju untuk menyerahkan kepempinan kepadanya.
Rasulullah adalah suri teladan kita. Marilah kita secara utuh dan
menyeluruh mengikuti Rasulullah dalam menegakkan Islam. Hanya dengan cara
inilah, kita akan dapat mengatasi bukan sahaja masalah orang Melayu tetapi
masalah umat Islam secara keseluruhan. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton
sahaja atau menjadikan masalah umat Islam hanya sebagai bualan kosong tetapi
kita mesti mengorak langkah menjadikan dakwah sebagai agenda utama kehidupan kita.