Satu Pramuka untuk satu Indonesia

Satu Pramuka untuk satu Indonesia
Kwarcab Kota Cimahi

Selasa, 17 September 2013

Dede Abdul Wasi



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP) - 1

SD                                     : Negeri Cipageran Mandiri 3
Mata Pelajaran               :  Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester            :  IV / 1
Standar Kompetensi         :  1.       Membaca surah-surah Alquran
Kompetensi Dasar         :  1.1       Membaca surah Al Fatihah dengan lancar
Indikator                           :  1.1.1    Melafalkan surah Al Fatihah dengan harakat dan makhraj yang benar
                                              1.1.2    Menerapkan hukum bacaan yang ada di surah Al Fatihah (bacaan alif lam dan izhar)
Alokasi Waktu                 :  6 ´ 35 menit (2 ´ pertemuan)

Tujuan Pembelajaran   :  1.     Siswa dapat melafalkan surah Al Fatihah dengan harakat dan makhraj yang benar sekaligus dapat menetapkan hukum bacaan yang ada pada surah Al Fatihah
2.       Siswa dapat mengartikan surah Al Fatihah dengan benar
3.       Siswa dapat menulis kata dan kalimat surah Al Fatihah dengan benar
4.       Siswa dapat menyebutkan sekaligus memahami isi pokok surah Al Fatihah
Materi pembelajaran     : Surah Al Fatihah dan Al Ikhlas
·         Qur an Surat Al Fatihah :
 
Artinya :
1.     Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2.     Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
3.     Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
4.     Yang menguasai hari pembalasan.
5.     Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
6.     Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7.     (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.  

 (lihat buku Pendidikan Agama Islam jilid 4 / buku penunjang yang sesuai bab 1 )

Metode Pembelajaran:    1.  Siswa berlatih melafalkan Surah Al Fatihah dengan harakat dan makhraj yang benar
2. Siswa berlatih melafalkan Surah Al Fatihah dengan menerapkan hukum   bacaan yang benar
3.   Siswa berlatih mengartikan Surah Al Fatihah
4.   Siswa berlatih menulis kata dan kalimat Surah Al Fatihah
5.  Siswa Mengadakan diskusi dengan teman-temannya mengkaji isi pokok Surah Al Fatihah

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran:
1.     Kegiatan Pendahuluan
.        Tadarus bersama surah-surah yang telah dihafal siswa
.        Memperkenalkan bahan ajaran yang menarik dan berguna bagi siswa (melalui fitur Mutiara Islam dan Sepenggal Kisah) 
2.     Kegiatan Inti
.        Siswa melafalkan Surah Al Fatihah secara klasikal, kelompok-kelompok dan individu
.        Siswa melafalkan Surah Al Fatihah dengan menerapkan harakat, makhraj dan hukum bacaan yang ada pada Surah Al Fatihah secara berulang-ulang
.        Siswa mengartikan Surah Al Fatihah secara berkelompok
.        Siswa menulis kata dan kalimat Surah Al Fatihah berdasarkan instruksi dan penjelasan guru
.        Siswa menyebutkan isi pokok kandungan Surah Al Fatihah secara kelompok
3.     Kegiatan Penutup
.        Guru mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang isi pokok Surah Al Fatihah dan pemahaman siswa mengenai hukum bacaan yang ada pada Surah Al Fatihah
.      Guru membacakan kesimpulan dari materi Surah Al Fatihah yang telah disampaikan
.        Siswa menceritakan kisah dalam Sepenggal Kisah yang telah dibacakan menggunakan bahasa sendiri

Alat / Sumber Belajar:
1.             Tulisan Surah Al Fatihah beserta artinya di karton
2.             Tulisan definisi hukum-hukum bacaan di karton
3.             Buku pendidikan agama islam jilid 4 Airlangga dan Arif Istiqamah 
4.             Buku Tajwid        
5.             Buku-buku lain yang relevan
6.             Kaset/ CD Al Quran tentang surah Al Fatihah
7.             Pengalaman guru

Penilaian:
1.             Lafalkan Surah Al Fatihah dengan makhraj, harakat dan hukum bacaan yang benar !
2.            Berilah contoh bacaan alif lam syamsiyah dan alif lam qamariyah yang ada pada Surah Al Fatihah !
3.             Sebutkan 3 nama lain Surah Al Fatihah !

Jawaban :
1.       Siswa melafalkan surah Al Fatihah dengan makhraj yang benar
2.      
3.       – Ummul Quran, Pembukaan, assab,ul mas’ani

Pedoman Penilaian ;
1.       Bobot setiap butir soal        : 3
2.       Skor maksimal                     : 3 x 3 = 9
3.       Nilai akhir                              : Skor didapat  x 100
                                                                9

======================================================================================

Mengetahui,
Kepala SDN Cipageran Mandiri 3









…….……..,………………………….
Guru Pendidikan Agama Islam






DEDE ABDUL WASI, S.Ag.MM.
NIP. 19630623.198412.1003



======================================================================================

Senin, 16 September 2013

Makalah aqidah akhlak



BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Jazirah arab adalah tempat yang dipilih Allah sebagai tempat kelahiran Rasulullah SAW dan juga sebagai tempat pertumbuhan islam. Disamping itu secara geografis, jazirah arab terletak diantara umat - umat yang sedang dilanda pergolakan.
Telah jelas bagi kita bahwa bangsa arab merupakan masyarakat ummi bila dibandingkan umat-umat lain di sekitarnya, oleh sebab itulah jazirah arab terpilih menjadi tempat diutusnya Rasulullah, karena beliau juga seorang yang ummi adalah agar manusia tidak ragu akan kenabiannya, dan agar mereka tidak memiliki banyak sebab keraguan terhadap kebenaran dakwahnya.
 Rey Arifin (tt:356) mengatakan bahwa: “Dua belas tahun sudah sejak nabi Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul. Dua belas tahun sudah beliau menyebarkan agama islam ketengah masyarakt arab (kota Mekah) yang sedang gelap gulita yang penuh dengan kejailan dan kejahatan, penuh dengan fanatic buta terhadap agama-agama sesatnya itu ketika itu umat islam hanya sedikit sekali, masih puluhan saja tetapi halangan dan ancaman sudah ribuan macam dan ragamnya. Semua itu dihadapi nabi dan orang-orang islam dengan tabah dan sabar, karena yakin akan kebenarannya”.
      Namun, ternyata perjuangan nabi dan pengikutnya tidak berakhir sampai disini. Tahapan demi tahapan dilaluinya, mulai dari mereka hijrah ke Madinah sampai pada tahapan terakir yang membanggakan, yaitu masuknya manusia ke dalam islam secara berbondong-bondong. Masa membentang panjang hingga wafatnya Rasulullah SAW.
      Maka dengan ini, penulis tergugah hatinya untuk memaparkan pemerintahan dalam kepemimpinan Rasulullah SAW, tidak terlepas dari tuntunan kewajiban sebagai mahaiswa dalam memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen dalam mata kulian Aqidah Akhlak. Makalah ini berjudul “Analisis Kepemimpinan Rasulullah SAW dalam pemerintahan”.


B.     Perumusan Masalah
Dalam makah ini penulis merumuskan masalah-masalah, sebagai berikut:
1.      Bagaimana kepemimpinan Rasulullah SAW pada pemerintahannya (formal)?
2.      Bagaimana kepemimpinan Rasulullah SAW dalam sistem informal?

C.    Tujuan Masalah
Adapun penulisan atau pembahasan ini bertujuan untuk :
1.      Untuk mengetahui kepemimpinan Rasulullah SAW pada pemerintahannya (sistem Formal)..
2.      Untuk mengetahui kepemimpinan Rasulullah SAW dalam sistem informal.
























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kepemimpinan Rasulullah SAW dalam Sistem Formal.
Periode Mekkah dapat dibagi tiga tahapan :
1.      Tahapan dakwah secara rahasia/sembunyi-sembunyi
2.      Tahapan dakwah secara terang-terangan dengan menggunakan lisan saja tanpa perang di tengah penduduk Mekkkah dimulai dari sejak tahun ke-4 hijriah kenabian hingga akhir tahun ke-10
3.      Tahapan di luar Mekkah dan penyebarannya yang dimulai dari tahun ke-1 dari kenabian hingga hijrah ke Madinah

·         Tahapan Pertama
Dakwah secara rahasia/sembunyi-sembunyi

Nabi SAW mulai menyambut perintah Allah dengan mengajak manusia untuk menyembah kepada Allah semata dan meninggalkan berhala. Dakwah ini dilakukan secara rahasia dengan alasan untuk menghindari tindakan buruk dari kaum Quraisy yang fanatik terhadap kemusyrikan dan pagenesmenya.
Dakwah pada tahun ini menghasilkan sekitar empat puluh orang masuk islam, kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan budak dan orang-orang Quraisy yang tidak memiliki kedudukan.

·         Tahapan Kedua
Dakwah secara terang-terangan

Ibnu hisyam berkata : Kemudian secara berturut-turut manusia memeluk islam, sehingga berita islam sudah tersiar di Mekkah dan menjadi bahan pembicaraan orang. Lalu Allah SWT memerintah RasulNya menyampaikan islam secara terang-terangan sesuai dengan firmannya :




Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.(AL-Hijr:94)

·         Tahapan Ketiga
Bai’at Aqabah

Bai’at Aqabah pertama yaitu dimana pada waktu itu datang dua belas laki-laki dari Anshar pada musim haji untuk menumui Rasulullah SAW di Aqabah. Kemudian mereka berbai’at kepada Rasulullah SAW untuk mkengajarkan Al-Qur’an dan hukum-hukum agama kepada mereka.
Bai’at Aqabah kedua yaitu dimana Rasulullah SAW mengajak supaya mengimani Allah SWT dan memberikan dorongan kepada islam kemudian beliau bersabda : Aku bai’at kamu untuk membelaku sebagaimana kamu membela istri-istri dan anak-anakmu..

Periode Madinah dibagi menjadi tiga tahapan :

1.      Tahapan masa yang banyak diwarnai guncangan dan cobaan. Tahapan ini dimulai dari permulaan hijrahnya Rasulullah SAW dan berakhir dengan dikukuhkannya perjanjian Hudaibiyah pada bulan Dzul-Qaidah tahun ke-6 dari hijrah.

2.      Tahapan masa perdamaian dengan para pemimpin paganisme, yang berakhir dengan Fathu Makkah pada bulan ramadlan tahun ke-8 dari Hijrah.

3.      Tahapan masa masuknya manusia kedalam islam secara berbondong-bondong. Masa ini membentang hingga wafatnya Rasulullah SAW pada Rabiul Awal tahun ke-11 dari hijrah.
Beberapa saat setelah terjadinya Futuh Makkah, kaum muslimin yang menjadi pengikut setia Rosulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam semakin bertambah banyak. Mereka datang dari berbagai kabilah, suku, bahkan negeri yang berlainan, termasuk pula warna kulit mereka. Kenyataan seperti ini ternyata menjadi sesuatu yang ditakutkan oleh kaum musyrikin Quraysi waktu itu. Dalam pandangan mereka bertambahnya jumlah kaum muslimin pertanda semakin kuatnya pasukan para hamba Allah itu dan semakin kuatnya kaum muslimin berarti kekuasaan akan mudah untuk mereka raih. Terlintas pula dalam pikiran mereka bahwa kekuasaan selama ini yang selama ini mereka pegang dan diwariskan secara turun-temurun  dari generasi ke generasi akan terlepas begitu saja serta menjadi milik Rasulullah SAW dan pengikutnya. 
Semua dugaan dan dan perkiraan kaum musrikin Quraisy seperti di atas tadi sebenarnya keliru. Kekuasaan ternyata bukanlah sebuah target yang akan dicapai oleh Rasulullah. Kebesaran dan kekuasaan dalam pandanganya merupakan anugrah dan amanah yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.
Dahulu, ketika perjuangan baru dimulai, Rasulullah pernah pula didatangi oleh para pembesar kaum Quraisy. Mereka merasa terancam kedudukannya oleh gerakan dakwah beliau hingga akhirnya mereka kasak-kusuk kesana kemari. Kepada Abu Thalib, paman Rasulullah,  mereka menawarkan apapun untuk Rasulullah seperti wanita, harta berupa perhiasan emas, permata, atau bahkan kekuasaan (jabatan), dengan satu tuntutan, beliau menghentikan laju dakwahnya. Dan kepada pamannya itu beliau berpesan untuk disampaikan kepada mereka bahwa semua tawarannya itu (termasuk tawaran kekuasaan) ditolak. Beliau menyatakan ”Sekalipun matahari mereka letakan di tangan kananku,dan bulan di tangan kiriku, tidak akan kutinggalkan dakwahku ini sedikitpun”.
Melalui berbagai petikan sejarah di atas, dapat kita pahami bersama betapa kekuasaan (jabatan) tak dilirik sedikitpun oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, apalagi materi dunia yang menyertai hal itu. Padahal dengan pandangan kita, dengan semua itu dakwah pasti berjalan lurus dan sukses. Sekali lagi ternyata tidak demikian dalam pandangan manusia sejati, Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam. Satu-satunya tujuan dan cita-cita perjuangannya adalah tunduknya semua umat manusia dengan tulus dan utuh kepada Allah Subhanahu Wata’ala, taat dan patuh kepada semua aturan dan syari’at-nya serta pengakuan bahwa Allah saja tuhan yang Maha Kuasa dan Pemilik  segala kekuasaan itu sendiri.
Ketundukan manusia secara fisik atau lahir kepada kekuasaan yang ada bukanlah suatu yang hakiki dalam pandanganya dan tidak cukup itu saja. Tunduknya jiwa dan raga serta diikuti oleh penyertaan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala itulah yang menjadi hakikat maknanya sebuah kata ‘kekuasaan’, dan itu hanya milik Allah semata.
Kepimpinan Rasulullah SAW tidak hanya untuk menyelamatkan umat tetapi yang dimaksudkan adalah teladan dan panduan Rasulullah SAW kepada umatnya. Firman Allah SWT: 
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الاٌّخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
 “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (TMQ al-Ahzab : 21)
      Adapun beberapa hal yang telah di tempuh oleh Rasulullah SAW dalam pemerintahanya yaitu :
(1)  Menjelaskan ajaran yang dibawanya, dengan menjelaskan aqidahnya secara keseluruhan maupun bagian-bagiannya, dasar-dasar dan perkara-perkara.  Sambil menyeru daya intelektual manusia, untuk menarik perhatian manusia terhadap keimanan kepada aqidah yang disampaikan kepada mereka, dengan uslub (gaya dan teknik) yang inovatif, dengan mengeksploitasi semua kemudahan dan peluang yang tersedia (selagi tidak bertentangan dengan Islam) untuk menjelaskan aqidah Islam dan menjauhkan kekaburan yang melekat.
(2)  Menampilkan kekeliruan pemikiran yang rusak dan aqidah yang batil, seperti ateisme, syirik, kekufuran dan khususnya pemikiran yang kabur, yang dianggap oleh sebagian orang sebagai akibat penyesatan. Tetapi sebagian orang Islam menganggapnya sebagai pemikiran Islam atau digali dari semangat Islam seperti Sosialisme, Demokrasi, Patriotisme, Nasionalisme dan lain-lain.
(3)  Di antara kesulitan utama adalah kepatuhan umat islam kepada para pemimpin, karena itu wajib mengikuti kaidah yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dengan menjelaskan kepalsuannya.
(4)  Menjelaskan berbagai kerusakan yang ada di tengah umat termasuk berbagai jenis interaksinya. Juga menjelaskan kerusakan hukum-hukum yang mengatur interaksi umat yang menyeret mereka ke dalam berbagai kesengsaraan, serta menyebabkan pemerintahan itu ditimpa kerusakan dan kehancuran.
(5)  Menyiapkan calon pemimpin-pemimpin yang berusaha untuk memimpin umat agar mereka sesuai dengan taraf intelektual yang mereka kembangkan, memiliki cara berfikir (‘aqliyyah) dan berperilaku (nafsiyyah) yang Islami.
Keteladanan Rasulullah dalam memimpin tak diragukan lagi. Tindak-tanduk dan sepak terjang beliau dalam memimpin merupakan cermin pribadi mulia. Sebagai sosok pemimpin, beliau selalu mengedepankan nilai akhlak. Tataran ini kerap menjadi panutan generasi dimasa dan sesudahnya. Tataran akhlak yang ditampilkan Rasulullah bukan saja menjadi perisai kepribadian, melainkan juga mampu meluluhkan kekerasan hati siapa pun yang memusuhinya. Itulah sebabnya, Rasulullah dapat dikategorikan sebagai manusia istimewa. Keistimewaaan ini merupakan muara penyebarluasan rahmat bagi alam semesta
Keistimewaan yang ada dalam diri Rasulullah dapat kita selusuri dari rangkaian ayat-ayat Al-Qur'an. Pada Al-Qur'an, kita temukan para nabi sebelum nabi Muhamad SAW selalu diseru oleh Allah SWT dengan nama-nama mereka, "Ya Adam..., Ya Musa..., Ya Isa..., dan sebagainya. 
Tetapi terhadap nabi Muhamad SAW, Allah sering memanggilnya dengan panggilan kemuliaan, seperti "Ya ayyuhan Nabi..., Ya ayyuhar Rasul..., atau memanggilnya dengan panggilan-pangilan mesra, seperti "Ya ayyuhal muddatstsir, atau ya ayyuhal muzzammil (wahai orang yang berselimut)."

Keistimewaan lain yang dapat dipaparkan berkaitan dengan pola kepemimpinan Rasulullah, antara lain:
1.      Pemimpin yang zuhud.
Gambaran ini dapat kita simak dari salah satu riwayat, Rasulullah bersabda, "Tuhanku telah menawarkan kepadaku dengan menukar bukit-bukit di Mekkah menjadi emas. Tetapi aku mengatakan kepadaNya : Ya Allah, aku lebih suka makan sehari dan lapar pada hari berikutnya, jika aku dalam keadaan lapar, maka aku akan mengingatMu. Dan jika aku dalam keadaan kenyang, maka aku pun dapat memujiMu serta bersyukur atas nikmat-nikmatMu."
2.      Pemimpin yang amanah dan professional.
Rasulullah pernah bersabda bahwa pemimpin adalah pelayan umat. Sikap amanah dan profesional Rasulullah ini diikuti oleh khalifah-khalifah sesudah Rasulullah SAW pada zamannya. Diantaranya Khalifah khulafaurrasyidin
3.      Nabi SAW pemimpin yang dicintai Allah.
Ada perbedaan yang signifikan antara sikap Allah terhadap kepemimpinan Nabi SAW dengan kepemimpinan Nabi-nabi sebelumnya.
Akhirnya, di penghujung kepemimpinan Rasulullah SAW, beliau menyampaikan risalah terakhirnya, ketika itu Rasulullah SAW berdiri di depan seluruh ummat untuk memberikan pidato terakhirnya. Dapat dikatakan sebagai laporan pertanggungjawaban kenabiannya di hadapaan manusia. Banyak mutiara yang keluar dari mulut suci tersebut. Ada deklarasi persamaan manusia. Ada juga deklarasi hak - hak wanita. Dan juga penyampaian bahwa agama Islam resmi disempurnakan dan diridhai Allah, yang segera disambut pekik takbir kegembiraan seluruh umat (kecuali Abu Bakar. Beliau malah menangis, karena tahu apa maksud lain dari wahyu tersebut).
Di penghujung pidato tersebut, Nabi bersabda, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah tentang a pa yang telah aku perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat
terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata.
Nabi melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar? Bukankah telah kutaruh beberapa batu di perutku karena menahan lapar bersama kalian? Bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian? Bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "Benar ya Rasulullah!"
Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah... Ya Allah saksikanlah!" Nabi meminta kesaksian Allah bahwa beliau telah menjalankan tugasnya. Mungkin inilah rahasia sukses besar kepemimpinan Rasulullah, yang tak sanggup dicontoh oleh manusia
lainnya. Dari cuplikan pidato beliau tersebut dapat kita ambil 3 pilar utama kepemimpinan:
1.      Penyampaian risalah (= mendidik rakyat)
2.      Sabar atas kejailan pengikut
3.      Hidup setara dengan standar rakyat
Betapa banyak pemimpin yang sanggup berkhotbah dan berpidato mengajari rakyat dan pengikutnya, tapi tak sanggup sabar atas sedikit kelemahan dan secuil kesalahan rakyatnyaApalagi jika harus hidup setara dengan rakyat umum. Fasilitas khusus untuk pemimpin sudah jadi sesuatu. Rasulullah sanggup! Dan beliau memilih jalan hidup tersebut dengan penuh keikhlasan dan kecintaan.
Dan hanya kebodohan yang tak tau sejarah, kesombongan yang membungkam akal dan kedengkian yang menutupi hati saja yang akan membuat manusia mampu mencela dan memfitnah Rasulullah.
B.     Kepemimpinan-Kepemimpinan Rasulullah SAW dalam Sistem Informal
  1. Rasulullah Sebagai Tokoh Masyarakat , Pembangun  Kegiatan Ekonomi dan Perdagangan
Allah SWT benar – benar ingin menguji seseorang yang kelak akan diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Saat mengembala, beliau merenung dan berfikir, yang menyebabkab beliau jauh dari pemikiran duniawi dan terhindar dari noda yang merusak namanya. Sejak muda, beliau sudah terkenal sebagai orang yang terpercaya. Ketika Rasulullah SAW berusia 12 tahun, Abu Thalib mengajak beliau untuk berdagang ke Negeri Syam (Syiria). Sekalipun hanya ikut membantu pamannya, Rasulullah SAW sangat bersemangat dan tekun. Ia belajar bagaimana cara berdagang dan melayani para pembeli dengan baik. Sikapnya yang sangat sopan dan ramah membuat masyarakat di sekitar negeri Syam tertarik.
Ketika Rasulullah SAW menginjak dewasa, yaitu 25 tahun, beliau kembali berdagang ke Negeri Syam. Namun dalam perjalanan kali ini, beliau tidak lagi ditemani oleh pamannya. Kali ini, beliau dipercaya untuk menjual barang dagangan milik Khadijah, seorang janda kaya raya yang amat disegani oleh masyarakat Arab ketika itu. Alasan Khadijah menyerahkan barang dagangan kepada beliau yaitu karena Khadijah telah mendengar kebaikan, kejujuran, dan keuletan Nabi dalam berdagang.
Dalam perjalanan ke negeri Syam, Nabi Muhammad SAW ditemani oleh seorang pembantu yang bernama Maisyaroh. Maisyaroh adalah seorang kepercayaan Khadijah yang sangat berpengalaman dalam berdagang. Atas bantuan Maisyroh, Rasulullah SAW tidak mengalami kesusahan untuk berdagang di Negeri Syam.
Dalam perdagangan bersama maisyaroh, Rasulullah SAW mendapatkan keuntungan yang besar. Hal ini ia dapatkan karena selama berdagang ia sangat tekun, jujur, ramah, dan murah senyum kepada para pembeli yang dating.
Rasulullah SAW tidak pernah membohongi pembeli. Jika ada barang yang cacat, maka beliau menunjukkan kecacatannya. Jika barang tersebut berharga murah, maka beliau tidak akan menjual dengan harga yang mahal. Jika barang itu banyak, maka beliau tidak pernah menimbun barang tersebut agar mendapat keuntungan yang lebih besar. Beliau memberitahukan harga jual yang telah ditentukan oleh majikannya. Beliau akan mengatakannya dengan jujur, sehingga pembeli tertarik untuk membeli barang dagangannya.
Karena kejujuran dan kepandaian beliau dalam berbisnis, beliau mendapatkan laba yang sangat besar dan Khadijah tertarik untuk melamarnya.
Demikian kisah Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat melalui kegiatan ekonomi dan perdagangan. Sebagai umatnya, kita harus meneladani beliau. Dikala muda, beliau sudah mencari nafkah untuk hidupnya sendiri, beliau mengembala kambing dan berdagang untuk memenuhi kebutuhannya. Keuletan, kejujuran, dan keramah – tamahan beliau sudah seharusnya kita teladani dalam kehidupan sehari – hari.
  1. Kepemimpinan  Rasulullah sebagai pemimpin keluarga.

Rasulullah adalah manusia sempuma yang tidak mempunyai cacat sedikitpun, semua apa yang beliau aplikasikan selalu sesuai dengan iradat Allah, sehingga julukan Al-Amien yang beliau sandang tidak patut untuk dipermasalahkan. Gerak-gerik Rasulullah adalah hikmah dan tutur sapanya adalah nasehat. Kita selaku ummatnya harus menerjemah kan apa yang telah beliau lakukan sekaligus mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-sehari.
Begitu pun dalam berkeluarga, kehidupan yang penuh cinta dan keharmonisan yang di hiasi kasih sayang bisa beliau gapai. Hal ini membuktikan bahwa beliau berhasil membina dan memimpin rumah tangga yang beliau hadapi. Beliau selalu menge depankan keadilan dan kejujuran, tranformasi ilmu dari Allah dilakoni dengan sebenamya. ini bukan karena beliau menjadi kekasih Allah tetapi beliau lebih menginginkan apa yang beliau praktekkan nantinya bisa dicontoh oleh umatnya.
Dari sekian banyak perempuan yang beliau nikahi, tak satupun yang pemah dikecewakan, perlakuan baik selalu mengumbar damai dari kelembutan bicara dan keindahan akhlaqnya, malah beliau tidak segan-segan menisik dan mencuci baju sendiri manakala sang istri sibuk dan terlupakan untuk menisik dan mencucinya. Dalam berbicara tak pemah berkata dusta, hal yang hak dan bathil disampaikan sebagaimana mestinya, dalam melangkah dan bertindak beliau penuh keadilan, setiap permasalahan yang beliau hadapi ataupun pengaduan istri beliau tidak serta merta memutuskan dimana yang benar ataupun yang salah, beliau tetap menjalankan apa yang telah dianjur kan Allah yaitu bermusyawarah. Beliau berkeyakinan bahwa dengan musyawarah akan menemu kan titik terang yang baik.
Walaupun tidak hanya sekali Rasulullah mengawini perempuan, beliau tetap memperlakukan istri-istri sebagaimana yang telah disyariatkan Allah. Hak dan kewajiban terlaksana sesuai aturan dan keadilan selalu menghiasi pernak-pernik keluarganya. Kewajiban memberi makan dan menafkah kan keluarganya beliau kerjakan sendiri tanpa meminta bantuan sedikitpun pada sahabat, sedangkan hak-hak isteri beliau berikan penuh cinta dan keikhlasan
Ibunda kita Aisyah Ra pernah bercerita keluarga Rasulullah SAW selama dua bulan purnama tungku api dapur di rumah istri-istri beliau tidak menyala. Rasulullah SAW dan keluarga beliau selama itu setiap hari hanya makan dan minum dengan kurma dan air yang tidak jernih. Tatkala pagi tidak ada makanan di rumah beliau pun berpuasa dan tidak pernah mengeluhkan keadaan tersebut.
Kehidupan Rasulullah yang bersahaja bukan karena beliau malas bekerja, bahkan beliau seorang pekerja keras dan cerdas. Rasulullah juga menjahit sendiri pakaian beliau yang sobek. Setiap pulang ke rumah belum ada makanan tersedia, beliau pun langsung menyingsingkan lengan bajunya sambil tersenyum membantu istrinya di dapur. Sewaktu muda beliau seorang pedagang yang kaya dan terpercaya karena keamanahan dan kejujuran beliau.
Berbeda dengan sifat Rasulullah yang penyabar dikala sempit harta dan senantiasa langsung berinfak ketika mendapatkan harta membuka tirai hati dengan keikhlasan dan kelem butan tutur sapanya.
Begitulah kehidupan Rasulullah dalam membangun dan memimpin keluarganya sehingga istri-istri Rasulullah dibuat tak berdaya menghadapi kelembutan akhlaqnya. Mereka merasa malu berta nya karena takut salah dan mereka tidak menegur Rasul karena memang tidak ada kesalahan yang pantas ditegur. Dalam pandangan isteri-isterinya beliau manusia sempuma yang tidak pemah berbuat kesalahan.

  1. Kepemimpinan  Rasulullah Sebagai Tokoh Agama.
Sebagai seorang pemimpin, Rasulullah SAW tidak mudah tergoda atau terayu oleh kesenangan duniawi. Berulangkali kaum kafir Quraiys mengiming-iming Rasulullah SAW dengan janji-janji muluk, baik dengan imbalan wanita, harga benda, asal Muhammad mau berhenti mendakwahkan Agamanya. Rasulullah itu tetap “istiqamah”. Kerendahan hati Rasulullah itu banyak sekali ternukil dalam hadits-hadits. Meski ia seorang Rasul, kepala negara, namun ia tetap hidup dengan sederhana. Ia menjahit sendiri sepatunya yang koyak. Ia menimba air sendiri untuk keperluannya sehari-hari, serta banyak lagi pekerjaan-pekerjaan yang ia kerjakan sendiri.
Meskipun demikian, rasulullah adalah orang yang tegas terhadap tindak tanduk dan perlawanan orang-orang kafir, rasulullah tidak segan-segan berkata tidak ketika dihadapkan dengan pilihan yang menyebabkan ternistanya umat Islam. Bahkan rasulullah Saw sanggup mengayunkan pedangnya dalam menghadapi orang-orang kafir yang hendak menganiaya dan menindas umat Islam dan kaum lemah.






















BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan
Satu kekeliruan di kalangan umat Islam ialah melihat Rasulullah SAW hanya sebagai suami, ayah atau datuk tetapi tidak melihat bahwa beliau juga berperanan sebagai pemerintah, hakim, dan panglima tentera. Oleh karena itu ramai yang membicarakan tentang satu aspek kehidupan beliau yaitu aspek keluarga adapun banyak aspek lain dalam kehidupan beliau khususnya usaha gigih beliau berdakwah kepada umat islam dan perjuangan beliau menegakkan Islam diabaikan. Dakwah Islam harus dilakukan agar Islam dapat diterapkan dalam kehidupan dan agar Aqidah Islamiyah dapat menjadi dasar negara dan dasar perlembagaan serta undang-undang karena Aqidah Islamiyah adalah aqidah aqliyah (aqidah yang menjadi dasar pemikiran) dan aqidah siyasiyah (aqidah yang menjadi dasar politik) yang melahirkan peraturan untuk menangani masalah manusia secara keseluruhan, baik di bidang politik, ekonomi, budaya, sosial, dan lain-lain.
Allah SWT berfirman :
وَلْتَكُن مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
”Hendaklah ada di antara kalian sekelompok umat yang menyerukan kebaikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi mungkar.” (Qs. Ali-Imran [3]: 104).
Amar makruf nahi mungkar adalah bagian dari dakwah Islam. Baik-buruknya umat salah satunyabergantung pada dilaksanakan atau tidaknya amar makruf nahi mungkar. Imam al-Ghazali pernah berkata,“Sesungguhnya kegiatan amar makruf nahi mungkar adalah poros yang paling agung dalam agama. Kerana kegiatan inilah Allah mengutus para nabi seluruhnya. Seandainya umat Islam meremehkan amar makruf nahi mungkar, tidak mau memahami dan mengamalkannya, tentu akan berhenti keNabian  ini; kesesatan akan tersebar luas, kebodohan akan menjadi hal yang lumrah, kerusakan akan merajalela, pelanggaran akan semakin meluas, negeri-negeri akan hancur, dan manusia akan binasa.” (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, 2/306).
Apabila diberi wahyu, Rasulullah SAW menegaskan kepada isterinya bahwa tidak ada hentinya baginya dalam berdakwah dan ini beliau benar-benar tunjukkan dalam kehidupannya. Dakwah dilakukan tidak hanya untuk mengajak orang masuk Islam tetapi kemudian membiarkannya memenuhi keperluan hidupnya dan membangun interaksinya berdasarkan kedaulatan hukum selain Allah SWT. Rasulullah SAW berdakwah di Makkah selama 10 tahun tetapi setelah itu beliau ke Taif untuk mencari dokongan fizikal bagi dakwahnya. Kenapakan beliau ingin mendapatkan dokongan itu? Rasulullah SAW berjalan menuju Taif dalam usaha untuk mencari dukungan (talab an-nusrah) dari Bani Tsaqif supaya mereka memberikan kepimpinan dan kekuasaan untuk menegakkan Islam. Tanggapan dari Bani Tsaqif sangat mengecewakan. Rasulullah saw meminta mereka untuk merahsiakan penolakan mereka. Bani Tsaqif tidak sahaja menolak Rasulullah SAW, mereka bahkan mengerahkan orang-orang bodoh dan hamba-hamba untuk menghina dan mengusir beliau dari Taif. Rasulullah SAW berlindung di kebun milik Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabia’h. Itu semua tidak sedikit pun mematahkan semangat beliau untuk terus berdakwah sehinggalah beliau mendapat kepercayaan dari penduduk Madinah yang bersetuju untuk menyerahkan kepempinan kepadanya.

Rasulullah adalah suri teladan kita. Marilah kita secara utuh dan menyeluruh mengikuti Rasulullah dalam menegakkan Islam. Hanya dengan cara inilah, kita akan dapat mengatasi bukan sahaja masalah orang Melayu tetapi masalah umat Islam secara keseluruhan. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton sahaja atau menjadikan masalah umat Islam hanya sebagai bualan kosong tetapi kita mesti mengorak langkah menjadikan dakwah sebagai agenda utama kehidupan kita.